PENDIDIKAN

Salwa Aqila, Maulang Kaji Jadi Kunci Meraih Prestasi

0
×

Salwa Aqila, Maulang Kaji Jadi Kunci Meraih Prestasi

Sebarkan artikel ini

CANDUANG, HARIANHALUAN.ID — Rasa bingung saat pertama kali belajar justru menjadi titik balik bagi Salwa Aqila untuk terus melangkah maju. Remaja yang kini duduk di bangku madrasah tsanawiyah ini membuktikan bahwa kegigihan dan kebiasaan maulang kaji bisa mengantarkannya pada berbagai prestasi membanggakan.

Salwa Aqila merupakan siswi Pondok Pesantren Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Canduang yang dikenal aktif dan berprestasi. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia mengaji dan tilawah. Ketertarikan itu semakin kuat ketika ia mulai menekuni ilmu agama secara lebih mendalam di pesantren.

Ia mengaku, hari-hari awal belajar kitab kuning bukanlah hal mudah. Bahkan, Salwa sempat merasa asing dengan pelajaran yang diterimanya. Namun, rasa penasaran justru membuatnya semakin tertantang untuk belajar lebih giat.

“Awal masuk sekolah saya bingung, ini pelajaran apa. Tapi lama-lama kami dikenalkan dengan metode Al-Miftah Lil Ulum yang memudahkan membaca dan memahami kitab kuning,” ujar Salwa.

Semangat belajar Salwa tak selalu berjalan mulus. Rasa malas kerap datang tanpa aba-aba. Namun, ia memilih untuk tidak menyerah dan kembali mengingat tujuan awalnya menimba ilmu di Tarbiyah.

“Saya lawan rasa malas itu. Saya ingat lagi niat awal saya belajar. Lagi pula, mendalami kitab kuning itu menyenangkan buat saya,” tuturnya dengan santai.

Tak hanya fokus pada kitab kuning, Salwa juga konsisten mengasah kemampuan bertilawah. Sejak duduk di kelas dua sekolah dasar, tilawah sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya. Hingga kini, ia aktif mengikuti ekstrakurikuler tilawah di pesantren.

“Saya merasa tenang saat tilawah. Itu jadi energi positif buat saya memahami Al-Qur’an,” katanya.

Kerja kerasnya pun berbuah manis. Di usia 17 tahun, Salwa kerap dipercaya menjadi utusan sekolah dalam berbagai perlombaan, baik di bidang tilawah maupun keilmuan agama.

“Beberapa lomba yang pernah saya ikuti seperti tilawah, tahfidz tilawah, tahfidz Al-Qur’an, Musabaqah Qiraatil Kutub tingkat nasional, dan Musabaqah Syarhil Qur’an,” ungkapnya.

Bagi Salwa, belajar tidak cukup hanya sampai paham. Ia meyakini ilmu harus terus diulang dan dibagikan agar tidak hilang begitu saja.

“Kalau tidak murajaah, percuma. Kalau tidak dibagi, juga percuma. Jadi berbagi ilmu itu sekalian maulang kaji,” ujarnya.

Dukungan penuh dari orang tua menjadi penyemangat terbesar bagi Salwa. Ia bersyukur pilihannya menimba ilmu agama mendapat restu dan doa dari keluarga.

“Kalau orang tua ridho, ilmu lebih mudah melekat. Alhamdulillah, ayah dan ibu mendukung saya. Semoga ke depan saya bisa membahagiakan mereka lewat prestasi,” ucap remaja kelahiran Sungai Rotan itu penuh harap.(*)