HEADLINEUTAMA

Refleksi Hari Pers Nasional 2026 : Menyoal Tantangan dan Masa Depan Pers Daerah

2
×

Refleksi Hari Pers Nasional 2026 : Menyoal Tantangan dan Masa Depan Pers Daerah

Sebarkan artikel ini
Logo HPN 2026

“Akuntabilitas hanya lahir dari pers yang independen dan berpihak pada publik. Dan itu hanya bisa lahir apabila insan pers hari ini terus berbenah dan senantiasa meng-upgrade diri sesuai tuntutan zaman,” tuturnya.

Menyusutnya Ruang Redaksi

Hal senada juga disampaikan wartawan senior, Khairul Jasmi. Ia menilai pers daerah saat ini berada dalam posisi terhimpit. Perubahan lanskap media yang bergerak cepat ke ranah digital tidak sepenuhnya mampu diimbangi oleh perusahaan pers lokal. “Pers daerah terhimpit dunia digital. Kita berusaha ikut, tapi tidak mengangkat secara signifikan,” ujar pemegang Kartu Pers Number One PWI itu kepada Haluan, Minggu (8/2).

Menurut Pemimpin Redaksi Harian Singgalang itu, ada dua persoalan mendasar yang dihadapi pers daerah saat ini. Pertama, keterbatasan kapital atau modal kerja. Kedua, kekurangan wartawan yang diperparah dengan kesejahteraan yang tidak memadai. Akibatnya, ruang redaksi menyusut, liputan terbatas, dan daya saing melemah.

Kondisi serupa juga dialami media noncetak yang hanya berbasis dalam jaringan (daring). Alih-alih menjadi solusi, media online lokal justru menghadapi tantangan yang sama: kekurangan modal dan SDM.

Baca Juga  Ribuan Warga Ikuti Jalan Santai PKS, Orasi Anies Mampu Panaskan Mesin Partai

Pria yang akrab disapa KJ itu juga menyoroti persoalan lain yang tak kalah serius, yaitu keterbatasan bahan berita. Pers daerah seolah terjebak di ruang geografis yang sempit. “Kalau mau nasional, tidak ada tangan di Jakarta. Kalau daerah, mainnya hanya di Padang, paling jauh kota-kota di Sumbar. Berita pedesaan yang kaya feature justru tidak tersentuh,” ucapnya.

Keterbatasan jumlah wartawan dan biaya liputan membuat banyak realitas sosial di nagari dan pedesaan terpinggirkan dari pemberitaan. Padahal, di sanalah denyut persoalan publik yang sesungguhnya hidup.

Membandingkan dengan masa lalu, ia menyebut pers Sumbar kini menghadapi “lawan” yang jauh lebih banyak. Bukan hanya media nasional dan platform digital besar, tetapi juga medsos yang mengambil alih perhatian publik.

Namun ironisnya, di tengah kompetisi yang kian ketat, jumlah wartawan yang benar-benar fokus dan hidup dari dunia pers justru semakin sedikit. “Yang dibutuhkan itu wartawan yang sebenarnya, yang fokus di dunia ini. Tapi masalahnya, nafkah dari dunia pers tidak cukup,” katanya.

Baca Juga  Menunggak Pajak, 30 Tiang Reklame dan Billboard Ilegal di Kota Padang Dibongkar Petugas

Soal masa depan pers Sumbar, Khairul memilih bersikap realistis sekaligus reflektif. “Masa depan itu adalah sekarang. Bagaimana kondisi hari ini, seperti itulah nanti,” ujarnya.

Ia menilai masa depan pers akan lebih baik jika lembaga pers mampu membangun kualitas, integritas, dan profesionalisme yang kuat. Meski mengakui omzet perusahaan pers tak lagi sebaik dulu, ia mengaku tetap optimistis. “Saya percaya pers Indonesia dan Sumbar akan baik-baik saja,” katanya.

Disrupsi Digital dan Ancaman AI

Di lain pihak, wartawan senior, Hasril Chaniago melihat keberadaan akal imitasi atau Artificial Inteligent (AI) telah memicu era perubahan yang sangat cepat dalam industri media massa. Menyikapi kondisi ini, Hasil mengingatkan hasil karya jurnalistik jangan kalah dengan produk imitasi.