“Untuk mempertahankan kualitas, yang imitasi ini harusnya kalah dari yang asli. AI bisa jadi lebih cepat, tapi belum tentu jadi yang paling akurat. AI juga dikendalikan oleh akal manusia, jangan sebaliknya,” ujarnya saat dihubungi Haluan, Minggu (8/2).
Pengaruh AI terhadap perkembangan industri media massa bahkan sudah diungkapkan sejak 15 tahun lalu, di mana era media cetak diprediksi akan masuk fase “sunset industry“, kecuali para pelakunya menemukan terobosan dan kreativitas untuk bertahan.
Ia menilai ada dua hal kontradiktif yang dihadapkan dengan kehadiran AI. Pertama, AI menjadi saingan manusia. Kedua, kecenderungan kualitas dan semangat juang para jurnalis zaman sekarang yang berkurang.
“Para jurnalis generasi ’80 atau ’90-an ditantang untuk berjuang memperoleh informasi yang akan mereka suguhkan. Untuk mendapatkan peristiwa bahkan harus mencari arsip ke kantor pemerintahan. Belum ada internet ataupun rilis yang bisa diandalkan seperti sekarang,” katanya.
Ia menekankan, jangan sampai pers ikut-ikutan mencari data hanya bersumber pada AI. Sebab, saat ini sangat disayangkan banyak platform berkedok media yang belum terverifikasi Dewan Pers hanya membuat artikel berita berlandaskan AI tanpa melakukan pencarian kebenaran langsung kepada narasumber.
“Di sisi lain, ada juga hal-hal yang tidak bsia dijangkau AI. Seperti produk jurnalistik human interest, indept news, reportase investigasi, atau hal analisa tajam yang tidak dimiliki AI,” ujarnya.
Hasril juga sudah berulangkali menyoroti beberapa platform media sosial yang memuat informasi tidak tepat yang disuguhkan kepada publik. Kehadiran media massa diharapkan mampu meluruskan berbagai informasi keliru supaya tidak menjadi narasi yang menyesatkan. “Ke depan media massa juga punya tanggung jawab meluruskan informasi keliru yang dikeluarkan AI,” katanya.
Agar bisa bertahan, pers hari ini juga dituntut bisa menjadi referensi bagi masyarakat dalam memperoleh informasi akurat. Dari sisi bisnis pun juga akan terkait. Sebab, jika kualitas bagus, pasti bisa dijual. Jika media tersebut masih menjadi rujukan masyarakat dalam memperoleh informasi, pasti akan bisa bertahan.
Hanya saja, media juga harus mampu menyesuaikan selera pasar. Misalnya saja bagaimana Gen Z cenderung memilih informasi yang ringkas, lugas, ataupun berupa tampilan audiovisual. Dalam hal ini, media massa harus tetap menyampaikan informasi yang akurat, bukan asal cepat. Tak kalah penting, memperingati HPN tahun ini, Hasril juga mengimbau pemerintah untuk berperan menjaga fungsi pers. “Harapannya ada kesadaran dan tanggung jawab dari pemerintah bahwa publik memiliki hak menerima informasi yang akurat. Pemerintah juga tidak boleh membiarkan publik dengan mudah disesatkan oleh info-info AI,” tuturnya. (*)






