OPINI

Merenungi Kembali Jati Diri

1
×

Merenungi Kembali Jati Diri

Sebarkan artikel ini
Otong Rosadi (Dosen Politik Hukum dan Filsafat Hukum Unes Padang)

Kembali kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bukan berarti mundur ke masa lalu, melainkan menemukan kembali akar agar tidak tercerabut oleh arus perubahan yang begitu cepat. Dalam dunia yang semakin digital dan serba instan, pendidikan moral justru semakin relevan.

Teknologi dapat mempercepat arus informasi, tetapi tidak otomatis membentuk kebijaksanaan. Gelar akademik dapat meningkatkan status sosial, tetapi tidak serta-merta menghadirkan integritas. Di sinilah peran dosen menjadi krusial—sebagai penyeimbang antara kecerdasan intelektual dan kedewasaan moral.

Pendidikan pada hakikatnya adalah perjalanan kebudayaan. Ia bukan sekadar proses akademik yang terukur oleh kurikulum dan akreditasi, tetapi proses pembentukan manusia yang berlangsung sepanjang hayat. Seorang dosen tidak hanya mentransfer teori, tetapi juga menanam nilai melalui sikap hidup sehari-hari.

Cara berbicara, cara memperlakukan mahasiswa, cara menyikapi perbedaan pendapat, hingga cara menghadapi kegagalan—semuanya adalah pelajaran yang tidak tertulis namun sangat membekas. Dalam banyak hal, mahasiswa belajar lebih banyak dari keteladanan dibandingkan dari ceramah panjang di ruang kuliah.

Baca Juga  Rintihan Petani Gambir yang Tak Terdengar 

Mengingat kembali jati diri bangsa berarti mengingat kembali hakikat pendidikan itu sendiri. Bahwa pendidikan adalah jembatan antara pengetahuan dan kebijaksanaan, antara kecerdasan dan nurani, antara kemampuan dan tanggung jawab.

Bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga generasi yang berkarakter kuat, beretika, dan memiliki kepedulian sosial. Tanpa karakter, kecerdasan dapat kehilangan arah; tanpa nilai, kemajuan dapat berubah menjadi kehampaan.

Pada akhirnya, tugas mulia seorang dosen tenaga pendidik tidak pernah berhenti pada ruang kuliah, daftar hadir, atau lembar penilaian. Ia berlanjut dalam sikap hidup, dalam keteladanan yang diam-diam ditiru, dalam kata yang menuntun, dan dalam diam yang mengajarkan kebijaksanaan.

Baca Juga  Lubang Jepang di Bukittinggi : Warisan Luka dan Ketahanan Bangsa

Dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan nurani untuk menyalakan api pengetahuan sekaligus menjaga nyala nilai. Di tangan para pendidiklah masa depan bangsa dirawat—bukan hanya agar generasi berikutnya lebih pintar dari kita, tetapi agar mereka juga lebih arif, lebih beradab, dan lebih manusiawi.

Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan seorang pendidik bukan semata berapa banyak ilmu yang diwariskan, melainkan berapa banyak karakter yang ditumbuhkan dan berapa banyak harapan yang tetap hidup di hati para muridnya. Di sanalah pengabdian menemukan maknanya, dan di sanalah jati diri bangsa terus dijaga melalui jalan sunyi kerja seorang pendidik. Semoga! (*)