Oleh: Afrizal Moetwa
Ketua PD PERTI Sumbar, KETUM BADKO HMI Sumbar–Riau 1983–1986
Di Ranah Minangkabau, tahun 1986 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kongres HMI di Padang bukan sekadar peristiwa organisasi, melainkan penanda pertemuan antara tradisi Minangkabau yang panjang dengan sistem kaderisasi modern yang dibangun HMI.
Di antara ruang-ruang yang menjadi saksi sejarah itu, Wisma HMI Hang Tuah 158 Padang berdiri sebagai salah satu rahim intelektual yang mencetak kader dan melahirkan tokoh.
Sumatera Barat dikenal sebagai rahim ulama, intelektual, dan pemimpin bangsa. Dalam fase modern Indonesia, HMI menjadi salah satu wahana utama kaderisasi tokoh-tokoh Minangkabau yang tampil di tingkat daerah maupun nasional—di politik, pemerintahan, akademik, dakwah, dan gerakan sosial.
Dari ratusan tokoh Sumatera Barat, puluhan bahkan ratusan tercatat sebagai kader HMI, baik di Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, Padang Panjang, Batusangkar, Pariaman, Solok, hingga diaspora perantauan. Ini bukan kebetulan sejarah. Ini adalah buah dari pertemuan organik antara tradisi Minangkabau dan sistem kaderisasi HMI.
Islam sebagai Sandi: Jati Diri Kader Minangkabau
Bagi orang Minangkabau, Islam bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi sandi hidup—kode nilai yang mengatur cara berpikir, bersikap, dan bertindak. Falsafah Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah bukan slogan budaya, melainkan arsitektur peradaban.
Dalam struktur sosial Minangkabau, Islam adalah rujukan etik tertinggi. Adat hanya sah sejauh tunduk kepada syarak. Ini berarti keputusan sosial, politik, dan budaya harus melewati timbangan nilai Islam. Etika publik bersumber dari wahyu, bukan semata konsensus sosial.
Bagi kader HMI Minangkabau, Islam adalah sandi nurani, kompas perjuangan, dan ukuran benar-salah. Tanpa Islam sebagai sandi, kader kehilangan orientasi transendental; tanpa sandi, perjuangan menjadi pragmatis dan mudah terkooptasi kekuasaan.
NDP HMI: Formulasi Modern Sandi Minangkabau
Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bukanlah produk ahistoris. Ia adalah formulasi modern dari nilai yang telah lama hidup di surau-surau Minangkabau.
Tauhid dalam NDP adalah manifestasi syarak dalam struktur adat Minang.
Ilmu dalam NDP adalah kelanjutan tradisi surau sebagai pusat intelektual ulama.
Keadilan sosial dalam NDP adalah refleksi amanah penghulu dan tanggung jawab kolektif kaum. Dengan kata lain, NDP adalah sandi Islam Minangkabau yang diterjemahkan dalam bahasa intelektual modern. HMI menjembatani hikmah tradisi dengan kerangka pemikiran kontemporer.
Wisma HMI sebagai “Surau Modern” Kaderisasi
Jauh sebelum sistem kaderisasi modern dirumuskan oleh Cak Nur, Minangkabau telah memiliki model kaderisasi organik melalui surau. Surau bukan hanya tempat ibadah, tetapi institusi peradaban: pusat pembentukan akhlak, transmisi ilmu, dan laboratorium kepemimpinan umat.
Wisma HMI—termasuk Wisma Hang Tuah 158 Padang—adalah kelanjutan historis dari surau dalam ruang modernitas kampus dan negara. Di sanalah mahasiswa Minangkabau yang dibesarkan oleh tradisi mengaji dan hidup kolektif di surau, masuk ke gelanggang modernitas dengan disiplin intelektual dan etika kepemimpinan.
HMI tidak memutus tradisi surau; ia melanjutkannya dalam format modern.
Nilai Teguh, Strategi Luwes
Pengalaman sejarah, termasuk Kongres HMI 1986 di Padang, mengajarkan falsafah Minangkabau: alua jo patuik, ukua jo jangko. Nilai adalah prinsip; strategi adalah taktik. Islam sebagai sandi tidak bisa ditawar, tetapi strategi boleh berubah mengikuti zaman.
Kader HMI Minangkabau ideal adalah:
- Teguh pada tauhid
- Kritis membaca konteks
- Rasional dalam metode
- Spiritual dalam orientasi
- Kokoh pada substansi, tidak reaktif pada simbol
Di titik inilah tradisi Minangkabau dan sistem kaderisasi HMI bertemu secara organik.
Penegasan Ideologis
Islam di Minangkabau adalah sumber nilai dan legitimasi moral. Ilmu adalah alat pembebasan dan pengabdian. Adat dan HMI adalah wadah perjuangan.
Maka benar jika ditegaskan: Islam adalah sandi hidup orang Minangkabau, dan NDP adalah sandi perjuangan kader HMI. Memisahkan keduanya berarti meretakkan fondasi peradaban kader. Nilai harus teguh, zaman boleh berubah.
Penutup
Kader HMI Minangkabau hari ini dituntut berpikir setajam ulama, bersikap seteguh adat, dan bergerak seluwes zaman. Karena kader sejati adalah mereka yang tauhidnya kokoh, ilmunya tajam, dan keberpihakannya jelas kepada umat dan bangsa.
Wisma HMI Hang Tuah 158 Padang bukan sekadar bangunan; ia adalah rahim kaderisasi. Dari ruang-ruang sederhana itulah sejarah lahir, tokoh ditempa, dan masa depan Sumatera Barat serta Indonesia dipertaruhkan. (*)






