Oleh : Ardian ‘Uunk’ Yonas (Dosen Komunikasi Penyiaran Islam UIN Imam Bonjol Padang, Komisoner KPID Sumbar 2014 – 2022, dan Penyiar Radio Arbes FM 1995 – Sekarang)
SETIAP tanggal 13 Februari, dunia memperingati Hari Radio Sedunia. Tahun 2026, tema “Radio and Artificial Intelligence” (Radio dan Kecerdasan Buatan) terasa begitu dekat dengan realitas industri penyiaran hari ini. Radio tidak lagi hanya soal pemancar, antena, dan ruang siar berperedam suara. Radio kini hidup di tengah era digital, algoritma, dan kecerdasan buatan.
Di era ini, algoritma menentukan banyak hal, lagu apa yang direkomendasikan, berita apa yang muncul di beranda, hingga konten audio mana yang dianggap relevan bagi pendengar. AI membantu industri radio membaca data audiens, menyusun playlist otomatis, membuat transkrip siaran, bahkan menghasilkan naskah berbasis tren terkini. Semua serba cepat, presisi, dan efisien.
Namun di balik kecanggihan itu, ada satu pertanyaan yang sering muncul: apakah radio akan kehilangan jiwanya?
Sebagai seseorang yang menekuni profesi penyiar radio sejak tahun 1995, saya merasakan betul perubahan itu. Dulu, kami memutar lagu dari CD, kaset, bahkan piringan hitam. Menyusun playlist dilakukan manual. Telepon interaktif berdering tanpa henti, dan suara pendengar yang gugup di ujung sana menjadi warna tersendiri dalam siaran. Tidak ada algoritma yang memberi tahu lagu apa yang sedang tren, yang ada hanya insting, rasa, dan kedekatan dengan pendengar.
Kini, layar monitor penuh dengan data: grafik demografi, durasi dengar, engagement rate. Semua terukur. Semua bisa dianalisis. Sebagai penyiar lama, tentu ada rasa kagum. Teknologi memudahkan banyak hal. Tapi di saat yang sama, ada kerinduan pada momen-momen spontan ketika tawa di ruang siar tidak bisa direkayasa, ketika jeda hening justru terasa paling jujur.
Bagi saya, AI bukan ancaman. Ia adalah alat. Radio tetap tentang manusia yang berbicara kepada manusia lain. Tidak ada algoritma yang bisa menggantikan getaran emosi ketika menyampaikan kabar duka, atau antusiasme saat memutar lagu yang membawa kenangan bagi ribuan pendengar. Kehangatan suara, empati, dan keberpihakan pada publik adalah nilai yang tak tergantikan.
Kondisi radio hari ini memang menantang. Ia harus bersaing dengan podcast, platform streaming, dan konten berbasis algoritma. Namun radio juga berevolusi, hadir dalam bentuk live streaming, siaran multiplatform, dan interaksi digital. Radio yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya akan tetap relevan.
Lalu bagaimana radio bertahan di era ini?
Pertama, beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Radio tidak bisa menolak teknologi, tetapi juga tidak boleh kehilangan sentuhan manusia. AI digunakan sebagai alat bantu, sementara penyiar tetap menjadi ruh siaran.
Kedua, hadir di berbagai platform. Radio kini tidak hanya mengudara melalui frekuensi FM/AM, tetapi juga melalui streaming, aplikasi, dan podcast. Siaran bisa diputar ulang, dibagikan, dan diakses kapan saja. Radio yang multiplatform memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau generasi baru.
Ketiga, menguatkan konten lokal dan kedekatan emosional. Algoritma mungkin bisa merekomendasikan lagu, tetapi tidak bisa menggantikan sapaan personal, humor spontan, atau empati saat menyampaikan isu lokal. Radio bertahan karena ia terasa dekat seolah berbicara langsung kepada kita.
Keempat, membangun komunitas. Radio yang kuat adalah radio yang memiliki pendengar loyal. Interaksi melalui media sosial, kegiatan off-air, hingga kolaborasi komunitas membuat radio tidak hanya didengar, tetapi juga dirasakan.
Dalam perjalanan saya dari 1995 hingga hari ini, saya belajar bahwa radio selalu berubah bentuk, tetapi tidak pernah kehilangan jiwa. Dari kaset ke komputer, dari ruang siar analog ke sistem berbasis AI, mikrofon tetap menjadi jembatan antara hati dan telinga.
Hari Radio Sedunia 2026 bukan hanya perayaan teknologi, tetapi juga pengingat bahwa di balik algoritma dan kecerdasan buatan, radio tetap tentang manusia. Tentang suara yang menemani perjalanan pagi, tentang cerita yang menguatkan malam hari.
Bagaimana merayakan Hari Radio Sedunia 2026?
Kita bisa merayakannya dengan membuat siaran reflektif tentang perjalanan radio dari analog ke digital. Mengundang pendengar lama untuk berbagi kenangan. Menggelar diskusi tentang etika AI dalam penyiaran. Mengapresiasi kru teknis, produser, reporter, dan semua yang bekerja di balik layar. Atau sesederhana menyalakan radio dan benar-benar mendengarkannya, tanpa tergesa.
Bagi saya pribadi, setiap 13 Februari adalah pengingat bahwa meski zaman berubah, esensi radio tetap sama: menghadirkan suara yang menemani. Dari tahun 1995 hingga 2026, dari kaset ke kecerdasan buatan, satu hal yang tidak berubah adalah rasa ketika mikrofon menyala dan saya berkata, “Selamat malam, pendengar setia…”
Dan selama masih ada suara penyiar yang tulus dan pendengar yang setia, radio akan terus bertahan, bukan karena ia paling canggih, tetapi karena ia paling dekat. (*)






