EkBis

Bunga Tabur yang Masih Teronggok Manis di Lapak

5
×

Bunga Tabur yang Masih Teronggok Manis di Lapak

Sebarkan artikel ini
Yusni, salah seorang pedagang bunga tabur di TPU Tunggul Hitam, Rabu (11/2). BIB

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Tak jauh berbeda dengan hari biasa. Meskipun mendekati bulan Ramadan, omzet penjualan bunga tabur di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tunggul Hitam tetap saja sepi pembeli.

Salah satu penyebab sepinya pembeli saat ini diakibatkan pascabanjir bandang akhir tahun 2025 lalu yang mengakibatkan tergenangnya kuburan.

“Keluarga dari makamnya ikut lenyap ketika banjir bandang. Jadi sudah jarang bahkan tidak ada lagi ziarah ke makam,” ujar Susi, salah seorang pedagang bunga tabur.

Susi mengatakan, dalam sehari bunga yang dijualnya hanya terjual sebanyak empat sampai lima kantong bunga dari 10 hingga lebih kantong bunga yang dipersiapkannya. Begitupun dengan botol air mawar, yang hanya laku tiga atau empat botol per harinya.

Baca Juga  Sembilan Bakal Calon DPD RI Dapil Sumbar Lulus Verifikasi Administrasi

“Kalau di tahun kemarin lonjakan pembeli bunga tabur menjelang Ramadan cukup terasa. Untuk tahun ini masih belum ada dan masih sepi,” ungkapnya.

Susi sendiri berjualan setiap hari yang dimulainya pada pagi hingga sore. Bahkan memasuki Ramadan dan tradisi Balimau ini, ia pun akan tetap berjualan bunga tabur, karena secercah harapan dimungkinkan ada bagi dagangannya.

Sering tidak lakunya dagangan Susi, selain bunga tabur dan air botol mawar, ia menyisipkan air minum mineral untuk menambah pendapatannya.

Baca Juga  BRI Region 3 Padang Apresiasi Kinerja Karyawan dan Unit Terbaik

Lengangnya pembeli bunga di sepanjang jalan TPU Tunggul Hitam itu dirasakan juga oleh Yusni. Ia pun mengeluhkan mahalnya harga bunga rose untuk bahan dari bunga tabur. “Satu bunga rose itu seharga seribu rupiah. Di setiap kantong bunga tabur pasti menggunakan bunga itu dan saat ini hasil dari penjualan bunga tabur masih belum bisa menutupi modal untuk keseluruhan bunga tabur yang kami jual ini,” tutupnya. (*)