OPINI

Blockchain Dibalik Bitcoin: Mengapa Tidak Semua Kripto Bisa Menyusul

4
×

Blockchain Dibalik Bitcoin: Mengapa Tidak Semua Kripto Bisa Menyusul

Sebarkan artikel ini

Penulis: Dr. Ir. Harison, M.Kom, M.Pd.T, IPP, IPM

Sekretaris Prodi Pendidikan Profesi Insinyur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas

Sejak Bitcoin melesat ribuan hingga jutaan persen (dibaliknya ada teknologi Blockchain), satu pertanyaan terus berulang: kripto apa berikutnya yang akan menyusul? Pertanyaan ini wajar, tetapi sering berangkat dari asumsi keliru bahwa semua aset kripto memiliki peluang yang sama seperti Bitcoin. Padahal, sejarah dan struktur teknologi menunjukkan sebaliknya. Tidak semua kripto bisa menjadi Bitcoin, dan sebagian besar justru tidak akan pernah mendekatinya.


Bitcoin lahir bukan sebagai produk investasi, melainkan sebagai jawaban atas krisis kepercayaan terhadap sistem keuangan global. Ia dirancang untuk memecahkan satu masalah mendasar: bagaimana memindahkan nilai tanpa perantara dan tanpa harus saling percaya. Dari sini, lahirlah blockchain yang terbuka, terdesentralisasi, dan tahan sensor. Nilai Bitcoin tumbuh bukan karena janji keuntungan, tetapi karena kepercayaan terhadap sistemnya.


Sebaliknya, sebagian besar kripto yang muncul belakangan lahir dengan niat berbeda. Banyak yang dibuat untuk memperbaiki Bitcoin, meniru Bitcoin, atau sekadar mengejar momentum pasar. Tidak sedikit yang sejak awal diposisikan sebagai instrumen spekulasi. Di sinilah perbedaan fundamentalnya: Bitcoin tumbuh dari kebutuhan, sementara banyak kripto tumbuh dari narasi.


Salah satu pembeda utama adalah kelangkaan yang kredibel. Bitcoin memiliki batas pasokan yang jelas, tetap, dan tidak bisa diubah tanpa konsensus global yang hampir mustahil tercapai. Aturan ini bukan janji pemasaran, melainkan tertanam di dalam kode program dan dijaga oleh jaringan yang sangat besar. Banyak kripto lain mengklaim suplai terbatas, tetapi mekanismenya bisa diubah oleh tim pengembang atau pemegang kekuasaan tertentu. Ketika kelangkaan bisa dinegosiasikan, kepercayaan pun rapuh.

Baca Juga  Ferrocement Layers: Solusi Ekonomis Perkuat Dinding di Daerah Rawan Gempa


Perbedaan berikutnya terletak pada desentralisasi yang sesungguhnya. Bitcoin tidak memiliki CEO, kantor pusat, atau perusahaan induk. Ia hidup melalui ribuan node independen di seluruh dunia. Banyak kripto lain memang memakai istilah “blockchain”, tetapi secara praktik masih sangat tersentralisasi: dikendalikan oleh yayasan, tim inti, atau investor awal. Selama kontrol masih terkonsentrasi, risiko manipulasi tetap besar, dan nilai jangka panjang sulit bertahan.


Faktor ketiga adalah efek jaringan. Nilai Bitcoin tidak hanya berasal dari teknologinya, tetapi dari jumlah orang yang menggunakannya, menyimpannya, dan mempercayainya. Efek jaringan ini dibangun selama lebih dari satu dekade, melalui kegagalan, peretasan, kritik, dan krisis. Banyak kripto ingin melompat langsung ke fase adopsi massal tanpa melalui proses panjang tersebut. Padahal, kepercayaan tidak bisa dipercepat dengan pemasaran; ia harus diuji oleh waktu.


Selain itu, Bitcoin memiliki narasi yang konsisten. Ia tidak mencoba menjadi segalanya. Bitcoin tidak menjanjikan kecepatan transaksi tertinggi, fitur tercanggih, atau fleksibilitas tanpa batas. Fokusnya jelas: menjadi penyimpan nilai dan sistem uang yang tahan sensor. Banyak kripto lain justru kehilangan arah karena terlalu banyak janji—hari ini untuk pembayaran, besok untuk gim, lusa untuk metaverse. Ketika narasi terus berubah, pasar pun ragu menentukan nilainya.


Aspek penting lain adalah sejarah tanpa reset. Bitcoin tidak pernah dimatikan, diulang, atau diselamatkan oleh pihak tertentu. Setiap krisis dilewati apa adanya, dan justru memperkuat legitimasi sistemnya. Sebaliknya, banyak proyek kripto melakukan reset: mengganti aturan, memutar ulang jaringan, atau menyelamatkan sistem melalui keputusan terpusat. Langkah semacam ini mungkin efektif secara teknis, tetapi mahal secara kepercayaan.


Spekulasi memang hadir di seluruh ekosistem kripto, termasuk Bitcoin. Namun pada Bitcoin, spekulasi datang setelah fondasi terbentuk. Pada banyak kripto lain, spekulasi justru menjadi fondasi itu sendiri. Ketika harga menjadi satu-satunya alasan orang datang, maka ketika harga jatuh, kepercayaan ikut runtuh. Inilah sebabnya mengapa ribuan kripto menghilang tanpa bekas, sementara Bitcoin tetap bertahan.

Baca Juga  Alarm Surat Kaleng


Dalam konteks literasi publik, pembahasan tentang kripto seharusnya tidak berhenti pada fluktuasi harga semata. Media memiliki peran penting untuk membantu masyarakat membedakan antara inovasi struktural dan euforia sesaat. Bitcoin layak dibahas bukan karena harganya yang spektakuler, melainkan karena ia memperkenalkan paradigma baru tentang uang, kepercayaan, dan kedaulatan finansial individu. Tanpa pemahaman ini, publik akan terus terjebak dalam pola lama: mengejar aset yang “katanya akan naik”, tanpa memahami fondasi yang menopangnya.


Di sinilah pelajaran terbesar Bitcoin menjadi relevan. Ia mengajarkan bahwa nilai jangka panjang tidak dibangun dari janji, melainkan dari konsistensi prinsip dan ketahanan sistem menghadapi ujian waktu. Bagi masyarakat, regulator, dan pelaku industri, pendekatan yang lebih kritis dan rasional terhadap kripto menjadi kebutuhan mendesak. Bukan untuk menolak inovasi, tetapi untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar melayani kepentingan publik, bukan sekadar menjadi alat spekulasi yang berulang kali memakan korban optimisme.


Pada akhirnya, Bitcoin bukan sukses karena ia kripto pertama semata, melainkan karena ia berhasil menjaga prinsip awalnya ketika godaan untuk berubah sangat besar. Dunia kripto akan terus melahirkan inovasi baru, dan sebagian mungkin berhasil dalam perannya masing-masing. Namun menyamakan semuanya dengan Bitcoin adalah kesalahan analisis yang mahal. Bitcoin adalah pengecualian bukan aturan, dan justru karena itulah, ia sulit bahkan hampir mustahil untuk disalin. (*)