HEADLINEUTAMA

In Memoriam Ery Mefri :Tubuh Berhenti Bergerak, Proses dan Karyanya Selalu Dikenang

1
×

In Memoriam Ery Mefri :Tubuh Berhenti Bergerak, Proses dan Karyanya Selalu Dikenang

Sebarkan artikel ini
Ery Mefri

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Ery Mefri telah berpulang. Tepat pada Rabu (11/2) kemarin, sekitar pukul 13.10 WIB, sang maestro tari Indonesia asal Saniangbaka itu menghembuskan napas terakhirnya. Dalam kepulangannya itu, hujan lebat sudah bergabak di hulu langit Kuranji dan sekitarnya, menandai hari yang berkabung bagi insan seni Sumatera Barat (Sumbar) dan Indonesia.

Usia 67 tahun telah menemani asam manis pahit hidupnya. Kini, tubuhnya sudah tidak lagi bergerak bak puluhan karya-karyanya yang telah dipanggungkan ke berbagai negara. Yang ditinggalkannya hari ini adalah titisan tentang proses, karya, dan keteguhan diri, yang telah membawa Nan Jombang Dance Company menembus benua.

Direktur Nan Jombang Dance Company, Angga Djamar hanya bisa menyimpan sedihnya di balik senyum yang terpancar pada orang-orang yang berdatangan menjenguk suaminya. Seniman, budayawan, praktisi seni, wartawan, unsur pemerintahan, kawan seperjuangan, tetangga, dan orang-orang lain menyampaikan duka.

Baca Juga  Presiden Prabowo Dijadwalkan Tinjau Daerah Terdampak Bencana di Sumbar Hari Ini

“Tidak sekarang waktunya untuk mengenang. Yang bisa saya sampaikan kini hanyalah permintaan maaf, apabila Uda Mefri pernah berbuat salah dan menyinggung orang-orang yang bersamanya maupun tidak,” katanya kepada Haluan, Kamis (12//2).

Tak terkecuali Ririn, salah seorang anak Ery Mefri yang masih aktif menggeluti tari bersama Nan Jombang Dance Company. Ririn seolah melihatkan ketegarannya di hadapan orang-orang meski matanya telah sembab dan merah.

“Saya hanya bisa memberi kabar dan menyampaikan permohonan maaf jika ada salah yang diperbuat. Orang tua, guru, dan segalanya, melekat bagi saya. Sekali lagi maafkan Ery Mefri atas kesalahannya yang mungkin sering terlihat keras di hadapan banyak orang,” ujarnya.

Salah seorang anggota Nan Jombang Dance Company, Hadi Gustian mengaku merasa sangat terpukul. Kepergian Ery Mefri baginya adalah kehilangan sosok orang tua dan sosok yang menginspirasi prosesnya untuk terus mencintai seni sebagai hidup.

Baca Juga  POLRI PEDULI: Polres Sijunjung Tebar 350 Paket Sembako untuk Warga Tidak Mampu

“Pak Ery sudah seperti orang tua. Tapi ini bukan lagi menyangkut Nan Jombang saja, tapi sudah lebih luas dari itu. Beliau maestro tari Indonesia. Artinya ini kehilangan bagi Sumatera Barat dan Indonesia,” katanya.

Hanya sekilas yang terucap di mulut Hadi, bahwa dirinya selalu diyakinkan Ery Mefri bahwa seni itu benar-benar indah. “Kehidupan itu harus ada seninya. Saya mengerti dan paham apa itu proses yang benar-benar proses dari apa yang diajarkan beliau kepada saya,” katanya.

Sementara itu, Mahatma Muhammad, seniman yang mendirikan Komunitas Nan Tumpah, mengungkapkan bahwa Ery Mefri adalah sosok yang begitu inspiratif. Menurutnya, kepulangan Ery Mefri adalah kehilangan besar bagi dunia tari di Sumbar dan Indonesia, bukan hanya karena posisinya sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan tari kontemporer berbasis tradisi, tetapi karena konsistensinya merawat tubuh sebagai ruang pengetahuan dan perjumpaan.