“Saya menyukai dan membaca karya-karya tari kontemporernya dari bagaimana cara ia berproses dan bekerja memperlakukan tradisi, bukan sebagai benda yang dipamerkan, tapi sebagai laku yang terus diuji, dilatih, dan ditransformasikan,” kata Mahatma.
Dalam karya-karya Ery Mefri, ia melihat bagaimana idiom-idiom Minangkabau tidak dibekukan sebagai folklor, tetapi diolah menjadi bahasa tubuh atau koreografi yang hidup dan relevan dengan zamannya. Ery Mefri menunjukkan bahwa kesetiaan pada akar tidak berarti menutup diri dari kemungkinan pengembangannya.
“Bagi saya yang mengenalnya sedari kecil, karena tumbuh di lingkungan seniman, beliau adalah sosok yang bekerja dengan tekun dan disiplin. Ia mungkin tidak banyak berbicara tentang konsep, tetapi tubuhnya sendiri menjadi argumen. Cara ia melatih, menjaga proses, membangun Nan Jombang dan beberapa festival sebagai ruang temu karya, memperlihatkan bahwa seni adalah soal ketahanan. Baik itu ketahanan fisik, mental, dan komitmen pada komunitas. Ia membuktikan bahwa menjadi seniman berarti juga menjadi penjaga ruang belajar bagi generasi berikutnya,” katanya.
Mahatma menutup ingatannya tentang warisan Ery Mefri yang tidak berhenti pada repertoire karya, melainkan pada cara berpikir dan etos yang Ery tanamkan. Ery Mefri meninggalkan jejak yang tidak hanya dapat ditonton, tetapi juga diteruskan.
“Semoga karya dan keteladanannya terus menjadi sumber pembelajaran, sekaligus pengingat bahwa tradisi hanya akan hidup jika terus dikembangkan, digerakkan dengan kesungguhan dan keberanian,” tuturnya.
Syarifuddin Arifin, seorang penyair Sumbar yang turut menyaksikan perjalanan Ery Mefri, hanya bisa meraba kepergiannya dengan segala perjalanan yang dihadapi seorang Ery Mefri. Baginya, Ery Mefri adalah orang hidup yang benar-benar hidup.
“Dia hidup dan berjuang untuk kesenian. Meski karyanya kerap tentang dirinya dan kritiknya untuk Minangkabau, tapi saya bersaksi itu karena kecintaannya dengan Minangkabau itu sendiri,” katanya.
Bayangkan, ujar Arifin, sudah seberapa jauh dan luasnya Ery Mefri mengenalkan tradisi di Minangkabau ini. Di banyak negara yang dilintasinya, hanya galembong, gandang tambua, dendang, saluang, dan hal-hal yang melekat dengan Minangkabau yang dikenalkannya.
“Di rumahnya, ia seperti seorang pemberontak. Di luar, ia memanjakan tradisi yang dikemasnya ke dalam bentuk kontemporer. Tradisi menjadi hukum wajib baginya untuk berkarya,” ujarnya.
Senada, Fauzul el Nurca juga berkata demikian. Seniman yang sejawat dengan Syarifuddin Arifin itu menyebut Ery Mefri sebagai seorang diplomat budaya. Sebutan itu baginya bukanlah perumpamaan, tapi benar-benar demikian kenyataannya.






