Oleh : Khaidir Arief
Kali ini Selasa tanggal 17 Februari 2025, jam 01.10 saya tersentak saya terjaga, seakan akan sahur. Sepertinya Ramadhan sudah mulai datang, mata saya menatap langit langit. Suasana sedemikian hening dan sepi, hanya titik titik hujan pelan pelan mewarnai kehidupan malam ini. Namun biarlah tahajud saja malam ini, kata hati saya.
Tiba tiba sepertinya muncul inspirasi, dimana saya akan bertutur tentang tradisi balimau di Ranah Minang. Momennya tepat sekali karena 1 atau 2 hari lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan Tahun 2026.
Balimau adalah ritual adat Minang yang telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Bentuk kegiatannya adalah masyarakat di suatu nagari tua atau muda , pria dan wanita secara bersama sama pergi mandi ke tapian atau sungai dengan membawa limau yang telah diiris iris serta ditaburi bunga yang harum harum terus dibawa mandi disore hari, limau dan bunga yang wangi disirami ke tubuh saat mandi. Tentunya tempat mandi wanita dan pria terpisah cukup jauh. Malah dibeberapa daerah setelah mandi badan tersebut diberi bedak beras.
Adapun tujuan tersirat dari tradisi balimau ini adalah sebagai berikut :
- Mensucikan diri dan sama sama bersuka cita akan masuk bulan yang penuh berkah, hikmah dan bulan untuk pengampunan dosa.
- Menjaga dan menguatkan hubungan silaturrahmi dengan sesama umat Muslim, karena saat balimau mereka saling jumpa dan saling sapa.
- Saling berbagi pengalaman dalam melaksanakan amalan amalan d bulan puasa
- Mengajak dan mendidik kaum kawula muda untuk memahami tata krama adat serta nilai nilai agama.
Itulah makna hakiki dari tradisi balimau yang telah dilaksanakan ratusan tahun nan lalu di Ranah Minang. Disisi lain para Ulama pun tak ada yang melarang masyarakat untuk melaksanakan ritual balimau ini. Ini termasuk mubah kata para Ulama. Dikerjakan boleh saja tak dikerjakan juga tidak apa apa.
Waktu terus bergulir, tradisi balimau mulai sudah tak lagi jadi tren. Tak ada lagi cerita cerita akan kemana balimau. Siapa yang akan menyiapkan limau serta bunga bunga, ini jadi sepi dan hening.
Namun saya yakin dan percaya bahwa balimau masih dilaksanakan di berbagai nagari walaupun secara kwantitas manusia jumlahnya mulai berkurang.
Akhir cerita itulah tradisi balimau yang mulai ditinggalkan , mulai diabaikan. Namun marilah kita sambut Ramadhan 2026 ini dengan segala suka cita. Bulan penuh hikmah, bulan penuh berkah dan bulan penuh ampunan. Marhaban yaaa Ramadhan.
Padang , 17 Feb 2026 (*)





