PADANG, HARIANHALUAN.ID – Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi remaja kembali digelar di SMP N 26 Padang, yang berlokasi di Kota Padang. Program ini mengangkat tema Edukasi Pencegahan Keputihan pada Remaja Putri Berbasis Hasil Identifikasi Molekuler Candida albicans sebagai bentuk hilirisasi hasil penelitian laboratorium ke masyarakat.
Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim mahasiswa yang terdiri dari Anggun Sophia, Suraini, Vetra Susanso, dan Rita Permatasari, yang merupakan mahasiswa pengambil mata kuliah Mikologi angkatan 2023.
“Keputihan merupakan kondisi yang umum dialami remaja putri. Namun, tidak seluruh keputihan bersifat fisiologis. Pada beberapa kasus, keputihan dapat bersifat patologis yang salah satunya disebabkan oleh infeksi jamur Candida albicans,” kata Anggun menerangkan.
Berdasarkan penelitian sebelumnya, telah dilakukan isolasi serta identifikasi molekuler jamur tersebut dari sampel sekret keputihan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR). Hasil penelitian menunjukkan adanya peran signifikan Candida albicans dalam kasus keputihan patologis.
“Hasil riset tersebut kemudian dihilirisasi dalam bentuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Remaja putri dipilih sebagai sasaran utama karena merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah kesehatan reproduksi, namun masih memiliki keterbatasan literasi kesehatan,” sebutnya.
Kegiatan edukasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman siswa mengenai:
Perbedaan keputihan fisiologis dan patologis, Faktor risiko infeksi jamur penyebab keputihan, Langkah pencegahan infeksi yang tepat dan aman
Metode pelaksanaan dilakukan melalui edukasi interaktif, penyampaian materi berbasis temuan laboratorium, pemanfaatan media visual hasil identifikasi molekuler, serta evaluasi peningkatan pengetahuan melalui pre-test dan post-test.
Luaran dari kegiatan ini meliputi peningkatan literasi kesehatan reproduksi remaja, tersedianya media edukasi berbasis hasil riset ilmiah, serta publikasi kegiatan pengabdian kepada masyarakat.
“Melalui kegiatan ini, hasil penelitian diagnostik molekuler tidak hanya berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi juga memberikan dampak nyata dalam upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja. Program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi antara dunia pendidikan, penelitian laboratorium, dan pengabdian masyarakat dalam meningkatkan kualitas kesehatan generasi muda, khususnya remaja putri,” pungkasnya. (*)





