“Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang tinggi, investasi harus besar. Kalau PMTB turun, sulit berharap pertumbuhan melesat. Sampai sekarang, belum terlihat program pemda yang secara agresif mengundang investor masuk,” ujarnya.
Terkait program pengembangan UMKM. Pada periode sebelumnya, Pemerintah Povinsi (Pemprov) Sumbar mencanangkan program 100 Ribu Entrepreneur. Namun, Endrizal melihat dampaknya belum terasa secara agregat.
“Kita tidak melihat secara jelas UMKM mana yang benar-benar naik kelas dan mampu menembus pasar ekspor. Jangan sampai program itu hanya selesai di pelatihan dan sertifikat tanpa dampak nyata pada omzet dan daya saing,” katanya.
Ia menduga penurunan pengangguran kemungkinan diserap oleh sektor UMKM informal, tetapi tidak diiringi peningkatan produktivitas. “Kalau orang bekerja di sektor informal dengan output rendah, maka pertumbuhan tetap tertekan. Ini yang harus dibenahi,” tuturnya.
Terkait program Nagari Creative Hub, Endrizal menilai gagasan tersebut baik jika dikaitkan dengan potensi nagari dan dikolaborasikan dengan BUMNag serta koperasi. Namun efektivitasnya harus terukur.
“Creative Hub tidak boleh hanya menjadi ruang kegiatan. Ia harus terkoneksi dengan akses pasar, pembiayaan, dan digitalisasi. Kalau tidak ada market linkage, dampaknya ke PDRB akan tipis,” ujarnya.
Sebagai daerah rawan bencana, ia juga menilai bahwa Sumbar juga membutuhkan fokus serius pada pembangunan infrastruktur berbasis mitigasi.
“Sumbar ini daerah rawan bencana. Kalau APBD yang kecil itu habis hanya untuk penanganan bencana, ekonomi bisa kolaps. Oleh karena itu, APBD harus difokuskan untuk pembangunan dan infrastruktur yang memperlancar konektivitas dan aktivitas ekonomi,” kata Endrizal.
Ia menambahkan, selain mengandalkan APBD, pemda juga perlu mengelola potensi filantropi perantau Minangkabau secara sistematis. “Banyak perantau enggan berinvestasi karena pengalaman ROI yang rendah. Tapi untuk filantropi sosial, responsnya luar biasa. Pemda mesti mengkapitalisasi semangat ini dengan membentuk unit resmi yang mengkoordinir dana berbasis nagari, sehingga menjadi bantalan ekonomi saat terjadi krisis,” tuturnya.
Pertumbuhan yang Inklusif
Asisten Administrasi Umum Setdaprov Sumbar, Medi Iswandi menilai perlambatan ekonomi Sumbar ini tidak sepenuhnya mencerminkan melemahnya fondasi ekonomi daerah, melainkan sangat dipengaruhi oleh faktor non-struktural, terutama dampak bencana alam.





