Oleh : Fitriyoni, S.H., M.H. (Kepala Kantor Kemenag Solok Selatan)
Ramadan bukan sekadar momentum menahan lapar dan dahaga. Ia adalah madrasah pembentuk karakter. Tujuan utamanya ditegaskan secara eksplisit dalam Al-Qur’an: la‘allakum tattaqūn, agar kamu menjadi orang-orang yang bertakwa. Taqwa bukan hanya identitas spiritual, melainkan kualitas integritas yang menyatu antara keyakinan, sikap, dan tindakan, baik saat disaksikan banyak orang maupun ketika tidak ada satu pun yang melihat.
Di tengah keramaian, taqwa diuji oleh godaan citra dan pengakuan. Ibadah mudah terlihat, kebaikan cepat terpublikasi, dan amal saleh berpotensi menjadi panggung sosial. Di sinilah keikhlasan diuji. Apakah kita berbuat karena Allah atau karena ingin dinilai baik oleh manusia. Ramadan mengajarkan bahwa nilai sebuah amal bukan pada sorotan publiknya, tetapi pada kemurnian niatnya. Shalat tarawih yang khusyuk, sedekah yang diberikan, dan tilawah yang dilantunkan, semuanya bermakna ketika dilandasi kesadaran bahwa Allah Maha Melihat, bukan sekadar manusia yang memuji.
Namun justru dalam kesendirianlah taqwa menemukan makna terdalamnya. Puasa adalah ibadah yang unik. Tidak ada yang benar-benar tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa selain dirinya dan Allah. Seseorang bisa saja berpura-pura menahan diri di depan orang lain, tetapi diam-diam membatalkannya. Di sinilah puasa melatih kejujuran eksistensial, kesadaran bahwa Allah senantiasa mengawasi, meskipun tidak ada manusia yang menyaksikan.
Integritas sejati lahir ketika standar moral tidak berubah meski situasi berubah. Orang yang bertakwa tetap menjaga lisannya, meski berada di tengah perdebatan. Ia tetap menahan amarah, meski sedang diprovokasi. Ia tetap menjaga pandangan dan pikirannya, meski sendirian dengan gawai di tangannya. Taqwa bukan reaksi terhadap lingkungan, melainkan kompas internal yang mengarahkan perilaku.
Dalam konteks kehidupan modern yang serba terbuka dan digital, ujian taqwa semakin kompleks. Banyak ruang privat yang sesungguhnya sangat publik. Jejak digital tidak mudah terhapus. Maka menjadi bertakwa berarti membangun disiplin diri yang konsisten, etis dalam bekerja, jujur dalam administrasi, adil dalam memimpin, dan amanah dalam setiap tanggung jawab, baik terlihat maupun tersembunyi.
Ramadan mengajarkan pengendalian diri sebagai fondasi taqwa. Menahan lapar melatih kesabaran. Menahan amarah melatih kedewasaan. Menahan syahwat melatih kendali diri. Semua itu bukan tujuan akhir, tetapi proses pembentukan karakter. Setelah Ramadan berlalu, yang diharapkan bukan sekadar kenangan ibadah yang intens, melainkan lahirnya pribadi yang lebih stabil secara moral dan spiritual.
Taqwa juga berarti kesadaran sosial. Di tengah keramaian, orang bertakwa peka terhadap penderitaan sesama. Ia tidak larut dalam individualisme. Ia sadar bahwa keberkahan hidup tidak hanya diukur dari capaian pribadi, tetapi dari kontribusi bagi orang lain. Ramadan dengan zakat, infak, dan sedekahnya mengajarkan bahwa kepedulian adalah bagian integral dari ketakwaan.
Akhirnya, menjadi orang bertakwa adalah perjalanan seumur hidup. Ramadan hanyalah titik akselerasi. Ukuran keberhasilannya bukan pada seberapa meriah kita menjalani bulan suci, melainkan pada seberapa konsisten kita menjaga nilai-nilainya setelah ia pergi.
Di tengah keramaian, kita belajar ikhlas. Dalam kesendirian, kita belajar jujur. Jika keduanya menyatu, maka lahirlah pribadi bertakwa, pribadi yang kokoh prinsipnya, bersih hatinya, dan lurus tindakannya. Inilah hikmah Ramadan yang seharusnya kita bawa melintasi sebelas bulan berikutnya, hingga kembali bertemu dengan Ramadan selanjutnya dalam keadaan yang lebih baik. (*)





