Penulis: Dr. Ir. Harison, M.Kom, M.Pd.T, IPP, IPM
Sekretaris Prodi Pendidikan Profesi Insinyur Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dirancang sebagai langkah besar negara dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Dengan cakupan yang luas dan jumlah penerima yang besar, program ini tidak hanya menyangkut pemenuhan gizi, tetapi juga menyentuh aspek keadilan sosial. Namun, keberhasilan program semacam ini tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, melainkan oleh sejauh mana pelaksanaannya mampu menjawab kondisi nyata di lapangan.
Salah satu tantangan yang sering muncul dalam program bantuan adalah jarak antara perencanaan dan realitas. Dalam banyak kasus, program dirancang dengan asumsi kondisi yang seragam, padahal situasi di lapangan sangat beragam. Hal ini juga terlihat dalam pelaksanaan MBG, terutama ketika dihadapkan pada momentum tertentu seperti bulan Ramadhan.
Dalam kondisi normal, distribusi makanan melalui sekolah mungkin menjadi pilihan yang logis. Sekolah adalah titik kumpul siswa, sehingga memudahkan penyaluran. Namun, kondisi tersebut berubah saat Ramadhan. Tidak semua siswa menjalani kegiatan belajar seperti biasa. Jam sekolah bisa berkurang, bahkan dalam beberapa kasus, aktivitas belajar dilakukan secara terbatas atau diganti dengan program unggulan daerah. Di sisi lain, jarak antara rumah siswa dan sekolah di banyak daerah bisa mencapai 3 hingga 15 kilometer.
Dalam situasi seperti itu, distribusi makanan yang tetap berpusat di sekolah menjadi kurang efektif. Tidak semua siswa dapat mengakses manfaat program dengan mudah. Bahkan, ada kemungkinan makanan tidak diambil atau tidak dimanfaatkan secara optimal. Jika kondisi ini dibiarkan, program berisiko berjalan secara administratif tanpa memberikan dampak yang signifikan. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih adaptif dan membumi. Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah menyalurkan makanan dari dapur yang paling dekat dengan tempat tinggal siswa. Dengan cara ini, distribusi tidak lagi bergantung pada kehadiran di sekolah, tetapi menyesuaikan dengan kondisi nyata yang dihadapi masyarakat.
Pendekatan ini tidak hanya soal jarak, tetapi juga soal kemudahan akses. Ketika makanan disalurkan dari lokasi yang lebih dekat, siswa atau keluarganya tidak perlu menempuh perjalanan jauh (biaya lebih). Hal ini menjadi penting, terutama di daerah yang memiliki keterbatasan transportasi. Program menjadi lebih menghargai keberagaman dan dapat menjangkau lebih banyak penerima secara efektif.
Selain itu, dalam konteks Ramadhan, pola konsumsi masyarakat juga berubah. Makanan tidak lagi dikonsumsi pada siang hari, melainkan saat berbuka. Oleh karena itu, makanan yang disalurkan melalui program MBG dapat disiapkan sebagai santapan berbuka dan didistribusikan pada sore hari (tentunya akan terjadi perubah pola masak dapur MBG yang mempersiapkan dari malam sekarang bisa . Dengan penyesuaian ini, program tidak hanya tetap berjalan, tetapi juga menjadi lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Penggunaan Teknologi Informasi berbasis kedekatan lokasi ini juga membuka peluang untuk pengelolaan yang lebih efisien. Dapur-dapur yang tersebar di berbagai wilayah dapat dioptimalkan sesuai dengan jumlah penerima di sekitarnya (walaupun secara perencanaan dapur MBG dibangun berdasarkan kedekatan Gedung sekolah). Distribusi menjadi lebih terarah, dan potensi pemborosan dapat ditekan. Dalam jangka panjang, pola seperti ini dapat membantu menciptakan sistem yang lebih fleksibel dan responsif.
Lebih jauh, pendekatan ini juga dapat mendorong keterlibatan masyarakat lokal. Dapur yang digunakan tidak harus selalu berskala besar, tetapi bisa melibatkan pelaku usaha setempat. Hal ini tidak hanya memperkuat distribusi program, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di sekitar. Program MBG dengan demikian tidak hanya memberikan manfaat gizi, tetapi juga menciptakan efek sosial yang lebih luas. Walaupun secara isu isu warung warung makan sekitar sekolah terjadinya penurunan pendapatan.
Dalam era saat ini, dukungan sistem informasi data menjadi penting untuk memastikan bahwa pendekatan ini berjalan dengan baik. Data mengenai domisili siswa, jumlah penerima, dan lokasi dapur dapat secara otomatis merima masukan perubahan dari calon penerima MBG dengan demikian distribusi tepat sasaran. Namun, yang terpenting bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan bagaimana data tersebut digunakan untuk memahami kebutuhan nyata di lapangan.
Pada akhirnya, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari berapa banyak makanan yang disalurkan, tetapi dari sejauh mana program tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Penyesuaian dalam cara distribusi, termasuk dengan memanfaatkan dapur terdekat dari rumah siswa, menjadi salah satu langkah yang dapat memastikan hal tersebut.
Program publik yang baik adalah program yang mampu beradaptasi. Ia tidak kaku terhadap perubahan, tetapi justru mampu membaca situasi dan menyesuaikan diri. Dalam konteks MBG, adaptasi bukan hanya pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa itu, program berisiko kehilangan relevansinya.
Menyalurkan makanan dari dapur terdekat dengan rumah siswa adalah salah satu cara sederhana namun bermakna untuk menjembatani jarak antara kebijakan dan kenyataan. Dengan pendekatan ini, MBG tidak hanya menjadi program besar di atas kertas, tetapi benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat. (*)





