NASIONAL

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 27 Februari 2026

1
×

Perkembangan Situasi dan Penanganan Bencana di Tanah Air 27 Februari 2026

Sebarkan artikel ini
Karhutla melanda area perkebunan warga di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, Rabu (25/2). Sumber foto : BPBD Kabupaten Parigi Moutong.

JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah laporan kejadian bencana di Tanah Air, dalam kurun waktu 24 jam sebelumnya hingga Jumat, 27 Februari 2026 pukul 07.00 WIB. Berdasarkan data yang dirangkum oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB, sejumlah kejadian bencana hidrometeorologi kering dan basah menjadi atensi bersama.

Laporan pertama, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Desa Pemuka, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh pada Rabu (25/2). Lahan perkebunan seluas 30 hektar terbakar pada pukul 10.30 pagi waktu setempat. Penyebab kebakaran lahan yang dikelola oleh pihak swasta tersebut masih dalam penyelidikan hingga saat ini.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Singkil menurunkan personel untuk melakukan upaya pemadaman. Sebanyak tiga unit mesin alkon serta alat suntik gambut dikerahkan untuk mendukung upaya pemadaman. Hingga Kamis (26/2), petugas di lapangan masih berupaya untuk memadamkan api.

Peristiwa karhutla juga terpantau terjadi di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Kebakaran pertama terdeteksi berada di sisi jalan trans Desa Labuan Donggulu, Kecamatan Kasimbar pada Rabu (25/2) malam. Kondisi angin yang cukup kencang di wilayah tersebut menyebabkan api menjalar cukup cepat ke perkebunan warga.

Hasil kaji cepat sementara BPBD Kabupaten Parigi Moutong, total luas lahan terbakar mencapai 2,5 hektar dan berpotensi meluas.

Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, pemadam kebakaran, aparat desa, dan masyarakat segera turun ke lapangan untuk melakukan kaji cepat, monitoring serta pemadamam api. BPBD Kabupaten Parigi Moutong juga terus melakukan pemantauan kondisi api, baik titik api yang sudah ada maupun titik api yang baru muncul. Hingga Kamis (26/2), tim gabungan masih melakukan upaya pemadaman api.

Sementara itu, banjir dan cuaca ekstrem juga melanda di beberapa wilayah Tanah Air, salah satunya di Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebanyak 150 unit rumah warga di Desa Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok tengah terdampak banjir pada Kamis (26/2) pukul 06.30 waktu setempat.

Baca Juga  Pascagempa M 4,9 : Sebanyak 41 Rumah dan Fasilitas Umum di Karawang Terdampak

BPBD Provinsi NTB melaporkan, banjir dipicu hujan deras yang terjadi di wilayah tersebut sejak pagi hari. BPBD Kabupaten Lombok Tengah segera melakukan asesmen ke wilayah terdampak dan melakukan pemenuhan logistik bagi warga terdampak. BPBD juga mengimbau kepada warga untuk selalu waspada akan potensi bencana susulan lainnya.

Sebelumnya, pemerintah Provinsi NTB telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem di Provinsi NTB selama 90 hari sejak tanggal 19 Januari hingga 18 April 2026. Penetapan status ini dilakukan sebagai upaya percepatan penanganan bencana hidrometerologi di seluruh wilayah NTB.

Beralih ke Provinsi Kalimantan Utara, banjir merendam sepuluh kecamatan yang berada di Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara sejak Selasa (24/2) pada malam hari pukul 21.00 WIB. Adapun kecamatan terdampak yakni Kecamatan Lumbis Hulu, Kecamatan Lumbis Pensiangan, Kecamatan, Lumbis Ogong, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Sembakung Atulai, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Krayan, Kecamatan Krayan Timur, Kecamatan Krayan Barat, dan Kecamatan Sebuku.

Banjir berdampak pada 4.033 KK atau lebih dari 12 ribu jiwa. Sebanyak 30 orang harus mengungsi di Pos BPBD Kecamatan Lumbis. Selain korban jiwa, banjir juga turut merendam 10 unit homestay, 2 unit fasilitas pendidikan, 1 unit fasilitas umum, serta 1 unit tiang PLN terdampak.

Ketinggian air pada saat kejadian dilaporkan berkisar antara satu hingga tiga meter. Hal ini menyebabkan warga kesulitan untuk bermobilisasi serta berkegiatan sehari-hari. Meski demikian, BPBD Kabupaten Nunukan terus melakukan upaya pemenuhan kebutuhan warga terdampak.

Hingga Kamis (26/2), beberapa kecamatan mengalami kenaikan tinggi muka air akibat hujan yang masih terus terjadi di wilayah terdampak.

Selain di Kabupaten Nunukan, wilayah lain di Kalimantan Utara juga dilanda banjir yakni di Kabupaten Malinau. Banjir yang terjadi akibat luapan Sungai Malinau, Sungai Mentarang, dan Sungai Sesayap ini berdampak pada tiga desa dan empat kecamatan yakni di Kecamatan Mentarang, Kecamatan Malinau Kota, Kecamatan Malinau Barat, dan Kecamatan Malinau Utara.

Baca Juga  Buntut Kebijakan Trump: Harga Produk Makanan dan Minuman Bakal Naik

Hasil kaji cepat sementara, banjir tersebut menyebabkan satu balita meninggal dunia akibat terseret arus banjir. Sementara itu, jumlah warga yang terdampak banjir masih dalam pendataan BPBD setempat. Banjir juga memutus aktivitas ekonomi serta aktivitas pendidikan warga akibat jalan utama yang tidak dapat dilalui kendaraan bermotor.

BPBD Provinsi Kalimantan Utara bersama BPBD Kabupaten Malinau segera turun ke lapangan untuk membantu masyarakat melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman menggunakan perahu. Pemenuhan kebutuhan masyarakat terdampak juga mulai dilakukan oleh pemerintah daerah setempat.

Beralih ke Provinsi Jawa Timur, angin kencang melanda wilayah Desa Banmelang, Kecamatan Giligenting, Kabupaten Sumenep pada Kamis (26/2) pukul 07.00 waktu setempat. Angin kencang menyebabkan 1 rumah mengalami rusak berat, 1 rumah rusak sedang, dan 14 unit rumah rusak ringan. Kerusakan sebagian besar terjadi pada bagian atap dan dinding rumah.

BPBD Kabupaten Sumenep segera melakukan koordinasi dengan pihak kecamatan guna melakukan asesmen lanjutan dan pemberian bantuan kepada warga terdampak.

Prakiraan Cuaca Sepekan Kedepan

Hujan dengan intensitas sedang hingga ekstrem masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Indonesia di antaranya di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Maluku, hingga sepekan kedepan. Cuaca tersebut meningkatan potensi bencana hidrometerologi di Indonesia.

Menyikapi potensi bencana hidormeteorologi tersebut, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah dan masyarakat untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Apabila terjadi hujan lebat lebih dari satu jam maka masyarakat diimbau untuk evakuasi secara mandiri ke tempat yang lebih aman. Jauhi pepohonan, tiang, serta bangunan yang mudah roboh jika terjadi angin kencang.

Sementara itu, untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan, masyarakat diimbau untuk tidak membakar sampah serta membuang puntung rokok di sekitar wilayah yang mudah terbakar. Jika terjadi kebakaran dan menimbulkan asap, gunakan masker selama beraktivitas untuk melindungi kesehatan pernafasan. (*)