PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kematian Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan AS-Israel di jantung Kota Teheran, Iran telah memicu eskalasi konflik yang lebih dasyat di Timur Tengah. Di belahan dunia lain, Indonesia tengah was-was akan dampak yang ditimbulkan dari situasi perang di Timur Tengah yang terus memanas.
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI), Ronny P. Sasmita menyebut, konflik AS-Israel vs Iran akan turut berdampak terhadap ekonomi Indonesia, tak terkecuali Sumatera Barat (Sumbar). Indonesia memang bukan pihak dalam konflik, tetapi RI menjadi bagian dari sistem ekonomi global yang saling terhubung. Menurutnya, paling tidak ada tiga kanal utama akan terdampak secara tidak langsung.
“Kalau kita bicara eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat, maka dampaknya tehadap Indonesia secara tidak langsung lewat tiga kanal utama, yakni energi, keuangan global, dan perdagangan,” ujarnya kepada Haluan, Minggu (1/3).
Pertama, jalur energi. Ia mengatakan, setiap ketegangan di Timur Tengah hampir pasti mendorong harga minyak dunia naik karena pasar mengantisipasi gangguan suplai.
“Jika harga minyak melonjak signifikan, APBN kita tertekan karena subsidi energi berpotensi membengkak. Di sisi lain, inflasi bisa terdorong naik, terutama dari komponen transportasi dan pangan (karena biaya distribusi ikut naik). Ini yang paling cepat dirasakan masyarakat,” katanya.
Kedua, jalur pasar keuangan. Dalam situasi perang, investor global cenderung mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas. Dampaknya, nilai tukar rupiah bisa tertekan dan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika rupiah melemah tajam, biaya impor naik dan dunia usaha yang punya utang valas ikut tertekan. Dalam hal ini, Bank Indonesia biasanya akan merespons dengan stabilisasi kurs dan kebijakan moneter yang lebih hati-hati.
Ketiga, perdagangan dan sentimen global. Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran atau memicu perlambatan ekonomi global, permintaan ekspor Indonesia bisa terdampak.
“Memang, ekspor kita ke Iran atau Israel relatif kecil, tetapi efek rambatannya melalui perlambatan mitra dagang utama, seperti Tiongkok, Eropa, dan AS bisa lebih signifikan,” ucap Ronny.
Sedangkan terhadap Sumbar, menurut Ronny dampaknya lebih bersifat tidak langsung. Jika inflasi nasional naik karena energi dan pangan, maka harga kebutuhan pokok di Sumbar juga berpotensi ikut naik. Sektor UMKM, perdagangan, dan transportasi akan merasakan tekanan biaya.
Namun, jika harga komoditas tertentu, seperti CPO atau batu bara, terdorong naik karena ketidakpastian global, daerah penghasil komoditas di Indonesia bisa mendapat windfall jangka pendek, meski itu tetap harus dikelola hati-hati karena sifatnya sangat fluktuatif.
“Intinya, selama konflik tidak meluas menjadi perang regional besar yang mengganggu suplai energi global secara ekstrem, dampaknya ke Indonesia, termasuk Sumbar, masih dalam kategori tekanan ekonomi normal, bukan krisis. Tapi tetap harus waspada, karena dunia hari ini sangat sensitif. Satu rudal di Timur Tengah bisa terasa sampai ke harga cabai di pasar tradisional kita. Oleh karena itu, stabilitas fiskal, ketahanan pangan daerah, dan koordinasi pusat-daerah menjadi kunci mitigasi ke depan,” kata Ronny.





