PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sumatera Barat (Sumbar) memperkirakan ada sebanyak 2.500 jemaah umrah asal Sumbar yang masih tertahan di Arab Saudi. Mereka belum bisa pulang ke Tanah Air akibat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah selama beberapa hari terakhir.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kanwil Kemenhaj Sumbar, M. Rifki menyampaikan, jumlah jemaah umrah asal Sumbar yang masih tertahan di Tanah Suci bisa saja lebih dari 2.500 orang. Pasalnya, selain 2.500 orang tersebut, juga terdapat jemaah umrah musiman yang sebelumnya telah bertolak ke Arab Saudi.
“Kami memperkirakan untuk jemaah umrah asal Sumbar mencapai 2.500 sampai 3.000 orang, karena dalam seminggu itu yang diberangkatkan rata-rata 1.000 orang,” kata M. Rifki, Senin (2/3).
Berdasarkan data yang disampaikan Kemenhaj RI, saat ini terdapat sekitar 58 ribu orang jemaah umrah Indonesia yang masih tertahan di Kota Makkah maupun Madinah. Puluhan ribu orang jemaah itu masih menunggu kepastian kepulangan ke Tanah Air.
Menyusul ketegangan dan eskalasi konflik yang terjadi antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel serta melibatkan beberapa negara di kawasan Timur Tengah, Kemenhaj Sumbar telah mengambil kebijakan dan meminta pihak travel umrah untuk menunda keberangkatan calon jemaah umrah terhitung Senin (2/3). “Mulai hari ini (kemarin, red) sudah tidak diberangkatkan lagi pesawat umrah ke Tanah Suci, mengingat eskalasi konflik dan juga keamanan di Timur Tengah,” ujarnya.
Akibat kebijakan ini, penerbangan jemaah umrah menggunakan maskapai Lion Air melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang dijadwalkan berangkat pada Senin (2/3) terpaksa dibatalkan.
Padahal, sehari sebelumnya, Minggu (1/3), satu rombongan berjumlah 136 jemaah asal Sumbar masih sempat terbang menuju Arab Saudi sebelum instruksi penghentian ini dikeluarkan secara menyeluruh.
Hingga saat ini, belum ada batas waktu yang pasti kapan pemberangkatan akan dibuka kembali. Hal ini dikarenakan kondisi konflik di Timur Tengah masih sangat dinamis dan berisiko tinggi bagi jalur penerbangan internasional.
Rifki menyatakan, jika konflik terus berlarut, dampaknya tidak hanya menyasar jemaah umrah, tetapi juga berpotensi mengganggu persiapan dan pelaksanaan ibadah haji tahun ini. “Harapan kita tentu eskalasi ini segera selesai, karena bukan hanya umrah, tapi bisa berdampak pada haji nanti,” ujarnya.
Kanwil Kemenhaj Sumbar juga mengimbau para calon jemaah untuk bersabar dan memahami kondisi global yang tengah terjadi. Ia menegaskan bahwa keselamatan nyawa jemaah menjadi prioritas utama. “Kami mohon jemaah memaklumi situasi. Keselamatan menjadi prioritas utama,” ujar Rifki.





