PEKANBARU, HARIANHALUAN.ID – Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah se-provinsi Riau, mengadakan Apel Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan Lahan (Karhutla) di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau pada Kamis (5/3). Bertindak sebagai Inspektur Apel yaitu Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, dihadiri Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., Menteri Kehutanan, Kepala Basarnas, Kepala BMKG dan Wamen Lingkungan Hidup serta perwakilan kementerian dan lembaga lainnya
Menko Polkam dalam arahannya menyampaikan, apel ini dilakukan guna mengetahui sejauh mana kesiapan pemerintah sebelum memasuki musim kemarau yang diprediksi akan terjadi akhir Maret 2026.
“Upaya ini adalah salah satunya sebagai kesiapsiagaan ini meminimalkan peluang terjadinya Karhutla. Mitigasi sedini dengan modifikasi cuaca untuk mengisi embung, parit dan kanal untuk mempertahankan tinggi air. Kemudian disiapkan helikopter water bombing dan helikopter patroli,” ujar Menko Polkam.
Pentingnya pencegahan sebelum terjadinya Karhutla, dikarenakan Karhutla tidak hanya berdampak pada wilayah yang terbakar saja. Namun dapat berdampak ke wilayah lain, bahkan sampai ke negara tetangga.
Keberhasilan penanganan Karhutla tahun – tahun sebelumnya tidak luput dari kesuksesan kolaborasi pentaheliks dari seluruh pihak, sehingga pada tahun ini harus dipertahankan.
“Hal ini tidak bisa pemerintah pusat saja, tidak bisa pemerintah daerah saja, tapi harus dilakukan oleh semua pihak. Ini menjadi tanggung jawab kita kepada bangsa,” pungkasnya.
Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Kepala BNPB mengungkap bahwa beberapa tahun belakang ini tidak terjadi Karhutla yang melebihi pada tahun 2019 yang lalu.
“Tujuh tahun kebelakang ini tidak ada kebakaran besar seperti tahun 2019. Tahun 2023 ada El Nino, namun Indonesia bisa mengatasinya,” ucap Kepala BNPB
BNPB menyiapkan sejumlah langkah dan strategi penanganan Karhutla pada tahun 2026 ini, antara lain dengan kembali bersinergi dengan semua pihak di pemerintah pusat, daerah dan juga dunia usaha serta masyarakat.
“Keterpaduan dan sinergi semua pihak menjadi kunci keberhasilan penanganan karhutla,” imbuhnya.
Saat ini dikarenakan masih terdapat potensi awan hujan di provinsi Riau, BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait telah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC), OMC dilakukan tidak hanya untuk memadamkan api, namun juga untuk mengisi ketersediaan air di embung dan kanal yang berada di sekitar hutan.
“Kami sudah melaksanakan OMC. Ketika masih ada pertumbuhan awan hujan, paling efektif efisien apabila ada kebakaran didatangkan hujan, api bisa padam,” tuturnya.
Selain OMC, disiapkan juga operasi satuan tugas darat dengan personel dan peralatan yane memadai.
“Jika curah hujan semakin kurang karena masuk musim kemarau, susah didatangkan lagi hujan lewat OMC, ada Satgas Darat sudah bekerja, telah terbentuk Satgas Darat gabungan TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni dan masyarakat. Mereka sudah memiliki peralatan,” kata Suharyanto.
“Upaya terakhir jika OMC dan Satgas tidak bisa dilakukan karena api terlanjut besar, kita dukung dengan operasi helikopter water bombing,” lanjutnya.
Sejak 16 Februari hingga 4 Maret 2026, BNPB telah melakukan operasi modifikasi cuaca dengan 27 sorti penerbangan dan sebanyak 27 ton bahan semai telah disemai di langit Riau.
Seperti tahun – tahun sebelumnya, tahun ini fokus penanganan Karhutla berada di enam provinsi yang terdapat di pulau Sumatra dan Kalimantan,
“Ada enam provinsi prioritas penanganan Karhutla, sesuai inpres nomor 1 tahun 2020. Sumatra ada Riau, Jambi dan Sumatra Selatan, sementara itu Kalimantan ada Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” ungkap Suharyanto.
“Sampai awal Maret ini baru Provinsi Riau yang meminta bantuan kepada pemerintah pusat, sehingga hari ini Pak Menko Polkam hadir di Riau memimpin langsung,” pungkasnya.
Apel ini dihadiri oleh sedikitnya 1.000 personel yang terdiri dari perwakilan pemerintah daerah, dunia usaha dan juga perwakilan masyarakat, selain itu dihadirkan pula peralatan yang digunakan dalam operasi udara seperti helikopter yang digunakan untuk patroli dan water bombing serta pesawat Cesna yang digunakan untuk operasi modifikasi cuaca, sementara itu kendaraan pemadam kebakaran, motor pemadam kebakaran dan sejumlah peralatan pendukung dalam operasi satgas darat juga ditampilkan. (*)





