Puasa memang personal dan balasannya misterius. Hanya Allah SWT yang tahu. Dalam hadis Rasulullah bersabda: “Setiap kebaikan (yang dilakukan akan dibalas) dengan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa. Maka sesungguhnya puasa untuk-Ku dan Aku akan membalasnya sendiri.”
Pengalaman setiap orang dalam menjalan ibadah puasa berbeda-beda. Nikmat, gembira, dan indahnya berpuasa tergantung masing-masing. Puasamu tahun ini bisa sangat berbeda dengan puasaku. Puasamu dan puasaku mungkin sama, tapi sangat mungkin berbeda rasanya dengan puasa kita.
Nikmat Ramadan tergantung kesiapan hati kita. Selain berpuasa dan mengisinya dengan berbagai amal tambahan seperti tarawih, tadarus Al-Qur’an, zakat, infak, sedekah, dan lainnya, perlu dilanjutkan pencarian makna dan amalan yang menjadi andalan masing-masing orang.
Kepedulian dengan cara berbagi, mungkin cocok untuk satu orang. Memenuhi Ramadan dengan mengaji kitab bisa jadi pilihan lain. Terus bekerja dan produktif sepanjang bulan puasa, bisa jadi pilihan dan relevan. Pendeknya, setiap muslim hendaknya lebih proaktif menyiapkan landasan mental-spiritual yang terbaik untuk menunaikan Ramadan yang tersisa.
Pada fase sepuluh hari kedua bulan suci ini, kita masih memiliki cukup kesempatan untuk menjadikannya lebih bermakna. Konsistensi beribadah menjadi kunci agar Ramadan selalu berbeda dan bermakna setiap tahun. (*)





