HEADLINEOPINI

Puasa Ramadan dan Kesabaran

0
×

Puasa Ramadan dan Kesabaran

Sebarkan artikel ini
Mahyeldi Ansharullah (Gubernur Sumatra Barat)

Sabar adalah fenomena kejiwaan yang solid dalam menangkal dan menghadapi tantangan. Kesebaran bukan lemah dan putus asa. Tetapi kemampuan untuk membentengi diri sendiri dari berbagai kemungkian berputus harapan. Berbagai ayat dalam Al-Qur’an menegaskan urgensi kesabaran ini. Bahkan, secara spesifik, Al-Qur’an memerintahkan umat Islam untuk mencari pertolongan Allah melalui sabar dan salat (QS Al-Baqarah: 155).

Lebih jauh, Surat Al-Asr menyimpulkan bahwa kesuksesan hidup itu hanya dengan iman, amal saleh, saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Para ulama menyebutkan bahwa iman, amal saleh, dan wasiat kepada kebenaran hanya dimungkinkan jika dibangun di atas kesabaran.

Baca Juga  Peran Metrologi Legal dalam Menjadikan Kota Padang Sebagai Pusat Perdagangan dan Pembangunan di Indonesia

Puasa itu menahan diri dari segala dorongan nafsu manusia, dan dunia semuanya adalah nafsu. Karenanya, di sini terjadi korelasi antara puasa dan sabar. Bahwa dunia hanya bisa dikontrol dengan kekuatan kesabaran. Dan puasa adalah jalan paling efektif dalam membangun kesabaran itu.

Ramadan memang dikenal sebagai syahrus shobar atau bulan kesabaran. Bagaimana tidak, puasa yang identik dengan menahan diri itu justru substansi dari kesabaran. Karena sesungguhnya, salah satu bentuk kesabaran adalah sabar menghadapi godaaan nafsu-nafsu duniawi, sabar dalam menghadapi bunga-bunga semerbak keindahan duniawi.

Baca Juga  Rezka Oktoberia Bagikan Beasiswa PIP Tahap Dua di Berbagai Nagari di Luak 50

Dari keempat kategori kesabaran, para ulama sepakat bahwa sabar menghadapi godaan dunia adalah tingkatan kesabaran tertinggi. Karena memang kenyataannya gagal menghadapi musibah atau gagal melaksanakan perintah Allah dan Rasulullah, tahu gagal melaksanakan perintah agama, karena bentuk kesabaran keempat itu minim, yaitu tidak sabar menahan godaan dunia.

Di sinilah puasa memainkan peranan kunci dalam membangun kesabaran itu. Sebab, puasa memang sejatinya melatih diri untuk menahan diri dari godaan-godaan dunia yang dahsyat. Al-Imsak atau menahan diri adalah melatih jiwa untuk tidak terbuai atau jatuh dalam perbudakan nafsu duniawi. (*)