Heranof juga mengatakan bahwa pers Sumbar masih belum sehat dan bermartabat. Menuju kepada pers sehat dalam artian begitu banyak persolan yang dihadapi pers saat ini, seperti media cetak dalam hal pembiayaan kertas, pendapatan karyawan, begitu juga dengan radio dan TV yang harus dikeluarkan biaya terbesar listrik, biaya karyawan hingga biaya produksinya.
“Jadi belum kita katakan sehat dalam arti sehat secara ekonomi, namun sekarang menuju sehat dan bermartabat. Maka kita harus berbenah ke dalam untuk memperbaiki kondisi ini,” ujarnya.
Menanggapi hal ini, sambung Heranof, PWI Sumbar sudah berada di jalurnya, yaitu memperbanyak kualifikasi karyawan yang berpendidikan, memberikan pengetahuan pentingnya ilmu jurnalistik, pengenaan kode etik jurnalistik. Kemudian mengadakan pelatihan dalam kerja sama dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang mempunyai spesifik.
PWI sesuai dengan ketentuan dari pusat, pesertanya adalah orang-orang yang sudah memiliki kartu tanda Ujian Kompetensi Wartawan (UKW). Makanya, PWI Sumbar memperbanyak frekuensi UKW tersebut melalui kerja sama dengan pemerintah daerah (Pemda), agar teman-teman pers dan wartawan tidak membayar saat ujian UKW ini. Apalagi biayanya cukup mahal sampai Rp3,5 jutaan.
Heranof menambahkan, saat ini berdasarkan informasi dari Kominfo Sumbar jumlah media mainstream dan media online mencapai seribu lebih, yang artinya wartawan lebih banyak dari jumlah tersebut. (*)





