SUMBARKOTA SOLOK

Beras Solok dari Arosuka untuk Indonesia

1
×

Beras Solok dari Arosuka untuk Indonesia

Sebarkan artikel ini
Beras Solok
Bupati Solok, Epyardi Asda saat melepas keberangkatan truk yang membawa Beras Solok (Bareh Solok) murni vaietas Anak Daro untuk PT Food Station Tjipinang Jaya (BUMD) Pemprov DKI Jakarta. IST

Diungkapkannya, kelas tertinggi di Solok ada di sekitar Nagari Jawi-Jawi dan Talang, karena di lokasi ini iklim dan lingkungan sangat menentukan produktifitas. Bahkan dapat mempengaruhi rasa.

“Iklim daerah sedang itu mempengaruhi produktiftas, intensitas kemarau, jadi mataharinya tinggi sempurna  airnya cukup. Tapi perbedaan suhu siang dan malam nyata,” tuturnya.

“Contoh kalau di Nagari Guguak (Kabupaten Solok) malamnya dingin tampak sekali kontrasnya. Sedangkan di Padang itu tidak terjauh perbedaan suhu antara siang dan malamnya. Jadi di malam itu ada perombakan karbohidrat dan gula, sehingga mengakibatkan produktifitas itu tinggi di daerah dataran sedang,” ujarnya.

Baca Juga  Wagub Audy Joinaldy Optimis Sumbar Jadi Produsen Utama Madu Trigona di Indonesia

Ia menyebutkan, iklim juga berpengaruh pada tanaman. Semakin tinggi tanaman semakin tinggi elevasi, umurnya makin panjang.

Disampaikannya, jika varietas Sokan ditanam di dataran rendah seperti di Padang umurnya hanya bisa 100 hari. Sementara jika ditanam di daerah Jawi-Jawi bisa mencapai 115 dan 120 hari. Dan tinggi tanaman di suhu rendah dapat berkurang (pendek).

Menurutnya, dalam pemilihan varietas diperlukan vairietas yang mau beradaptasi dengan lingkungan. Umumnya varietas yang bisa bertahan dengan ketinggian mencapai ketinggian 700 meter dari permukaan laut.

Baca Juga  BPS Catat Sumbar Inflasi 7,43 Persen, Kota Bukittinggi Tertinggi di Sumatra

“Untuk di atas 700 meter, suhunya sangat berpengaruh. Kalau Sokan dianjurkan hanya sampai ketinggian 700-800 seperti di Padang Panjang. Tapi dengan catatan pada musim hujan usahan jangan ditanam, karena pada musim itu ketehanan penyakit pada varietas ini rentan,” ucapnya.

Sementara untuk Anak Daro dari hasil pengalaman petani, mampu bertahan di ketinggian 1.200 meter dari permukaan laut. “Itu di daerah Pandai Sikek. Saya pernah melakukan penilitian di situ. Tapi produktifitasnya tentu berbeda dengan yang 800 mdpl,” katanya. (*)