PADANG, HARIANHALUAN.COM – Hasil sensus Provinsi Sumatera Barat 10 tahun terakhir menunjukkan perbaikan yang signifikan. Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi menyampaikan bahwa hasil sensus yang dilakukan BPS Sumbar didiskusikan dengan berbagai OPD terkait untuk diintervensi dengan kabupaten/kota.
“Dari hasil sensus 2020, diikuti sensus lanjutan tahun 2022 kita bersyukur 10 tahun terakhir Sumbar terjadi perbaikan signifikan. Kematian ibu melahirkan, kematian bayi bisa kita tekan rata-rata 50 persen. Kematian usia balita bisa juga kita tekan lebih baik,” katanya.
Ia menyampaikan hal ini dalam diskusi yang dilakukan dengan BPS Sumbar, Kepala Dinas DP3AP2KB Sumbar, Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Sumbar, Kepala Dinas Kesehatan Sumbar, dan BKKBN Sumbar, Kamis, (8/3).
BPS Sumbar dalam rangka pembangunan Indonesia emas 2045, menyokong SDM unggul berdaya saing global melalui sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 2020.
Kepala BPS Sumbar, Herum Fajarwati menyampaikan keberhasilan pengendalian kelahiran ditandai dengan menurunnya Angka Kelahiran Total di tahun 2022 menjadi 2,46 yang berarti sekitar 2-3 anak yang dilahirkan perempuan selama masa reproduksinya.
“Dalam sepuluh tahun terakhir terjadi penurunan fertilitas remaja (15-19 tahun) yang cukup tajam yaitu dari 28 menjadi sekitar 14 kelahiran per 1000 remaja usia 15-19 tahun,” katanya.
Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan ditandai dengan menurunnya Angka Kematian Bayi dari 30 menjadi sekitar 16 bayi dari 1000 kelahiran hidup pada tahun 2022. Angka Kematian Ibu di Sumatera Barat (178) lebih rendah dari dari angka nasional (189) yang artinya terdapat 178 kematian ibu pada saat hamil, melahirkan atau masa nifas per 100.000 kelahiran hidup.
“Sekitar 7 dari 100 penduduk Sumatera Barat lahir di provinsi lain, dan yang paling banyak berada di generasi X (umur 42-57 tahun). Kemudian 1 dari 2 dari 100 penduduk umur 5 tahun ke atas di Sumatera Barat adalah komuter (bekerja/sekolah di luar kabupaten/kota tempat tinggalnya dan pergi pulang secara rutin pada hari yang sama),” tuturnya.
Prevalensi disabilitas umur 5 tahun ke atas di Sumatera Barat lebih banyak terjadi pada penduduk lansia (60 tahun ke atas). Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara disabilitas laki-laki dan perempuan begitu juga dengan wilayah tempat tinggal antara perkotaan dan perdesaan.
“Mayoritas penduduk Sumatera Barat berumur 15 tahun ke atas berpendidikan sekolah menengah atau sederajat.
Kemampuan berbahasa Indonesia penduduk Sumatera Barat sebesar 97,11 persen,” ucapnya.
Sebagian besar masih mempertahankan bahasa daerah untuk berkomunikasi di keluarga yaitu sebesar 93,78 persen dan lingkungan tetangga/kerabat yaitu sebesar 94,37 persen.
Dari sisi perumahan, 97,83 persen rumah tangga di Sumatera Barat menempati rumah yang memenuhi syarat ketahanan bangunan, hal ini dilihat dari sisi atap, dinding, lantai terluas.
“Terkait pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia emas tahun 2024, untuk mencapai itu dilihat dari capaian hasil sensus penduduk lanjutan. Laju pertumbuhan penduduk bagaimana yang dipengaruhi oleh tingkat kematian bayi, kelahiran, kesehatan, kematian ibu melahirkan,” katanya.
Selain itu, indikator pertumbuhan penduduk itu menggambarkan capaian Indonesia emas. Sensus Penduduk 2020 diharapkan dapat menghasilkan indikator untuk memonitor dan mengevaluasi pencapaian target SDGs dan RPJMN di bidang kependudukan. (dar)





