PADANG, HARIANHALUAN.ID – Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar mengimbau peternak yang berada di sekitar kawasan hutan untuk tidak menggembalakan ternak dengan sistem liar serta menerapkan sistem kandang komunal anti serangan hewan buas.
Imbauan tersebut dikeluarkan usai insiden serangan Harimau Sumatra yang menewaskan dua ekor hewan ternak milik warga dalam waktu yang berdekatan di Kabupaten Solok Selatan beberapa waktu yang lalu.
“Faktor penyebab serangan harimau diantaranya adalah perilaku satwa, keterbatasan luasan habitat, perburuan dan ketersediaan pakan,” ujar Kepala BKSDA Sumbar, Ardi Andono kepada Haluan minggu (26/3).
Adanya sejumlah faktor tersebut, menurut Ardi menjadikan lokasi penggembalaan ataupun kandang ternak yang berada di pinggir kawasan hutan, menjadi salah satu lokasi yang paling rawan terjadinya interaksi negatif hewan ternak dengan satwa buas.
Kondisi itu, kemudian juga diperparah dengan kelalaian ataupun lemahnya pengamanan hewan ternak oleh masyarakat. Apalagi saat ini sebagian besar masyarakat masih melakukan pemeliharaan ternak secara konvensional.
“Seperti melepaskan ternak di lokasi-lokasi berumput yang berada disekitar pinggiran hutan, dan hanya dilakukan pengawasan atau pemantauan waktu tertentu. Kebiasaan ini tentu beresiko menimbulkan serangan satwa liar,” ungkapnya.





