Peserta pelatihan sedang melakukan brainstorming untuk membuat media pembelajaran.
JAKARTA, HARIANHALUAN.ID — Media pembelajaran tidak harus canggih, yang terpenting sesuai dengan kebutuhan murid. Rizqy Rahmat Hani, Ketua Kampus Pemimpin Merdeka, menjelaskan bagaimana proses design thinking dapat membantu guru membuat media pembelajaran yang bermakna.
Terdapat lima tahapan yakni empati, definisikan, ide, purwarupa atau prototipe, dan uji coba. Proses ini membantu guru memastikan bahwa media pembelajaran yang dibuat sesuai dengan kebutuhan calon penggunanya yakni murid.
Pada tahap empati guru setidaknya harus memikirkan dua hal dari sisi murid, yaitu minat dan lingkungan. Sebagai contoh, murid tinggal di daerah pegunungan sehingga orang tuanya mayoritas berprofesi sebagai petani apel. Guru dapat mempertimbangkan media pembelajaran terkait buah apel tersebut.
“Tahap empati sangat penting karena kita akan memetakan mana yang sesuai dengan kebutuhan dan minat murid dan mana yang tidak. Misalnya, kita maunya canggih, media pembelajaran yang hanya bisa diakses menggunakan HP. Tapi murid pada nggak punya HP, yang punya orang tuanya. Ini tidak sesuai,” terang Rizqy dalam siaran pers nya, akhir pekan lalu.
Tahap selanjutnya yakni definisikan. Pada tahap ini, guru bisa mulai memetakan materi mana yang butuh media pembelajaran. Tentukan mana yang memang sulit sehingga membutuhkan media pembelajaran.
Menurut Rizqy, jika murid tidak kesulitan memahami suatu materi maka tidak perlu membuat media pembelajarannya. Untuk pemetaannya bisa menggunakan hasil angket atau wawancara.
Misalnya dalam satu semester, kesulitan murid hanya pada materi peluang. Maka guru hanya perlu membuat media pembelajaran untuk materi tersebut.
Tahap ketiga, saatnya menuliskan ide sebanyak-banyaknya. Setelah mendapat banyak ide, analisis ide tersebut. Kemudian eliminasi ide yang paling butuh banyak biaya dan tenaga namun dampaknya kecil.
“Misalnya, setelah tahu murid sukanya yang serba bergambar dan hidup di daerah yang banyak kesemek. Mau bikin buku cerita tentang itu. Kalau buku bergambar, muridnya ada 40, wah banyak ya biayanya. Bisa dipertimbangkan hitam putih saja. Terlebih gambar hitam putih bisa membuat anak SD lebih mengeksplorasi imajinasinya,” kata Rizqy.
Setelah diputuskan media pembelajarannya, guru bisa membuat rancangannya. Tahap ini disebut purwarupa atau prototipe. Sebagai contoh, media buku cerita berarti membuat kerangkanya terlebih dahulu. Apabila video berarti membuat storyboardnya.
Pada tahap terakhir, yakni uji coba, beberapa murid diajak untuk menggunakan media pembelajarannya. Sehingga guru bisa melihat seberapa efektif dan berdampak media yang telah dibuatnya. Jika belum terasa efektif, bisa mengulangi lagi langkah-langkah design thinking untuk mencari bagian mana yang masih terlewat.
“Intinya membuat media pembelajaran itu sesuaikan dengan kebutuhan murid. Jadi murid senang dalam belajar, lebih fokus saat belajar, dan lebih memahami konsep, tidak hanya konten,” tutup Rizqy.(atv/*)





