PASBAR, HARIANHALUAN.ID — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pasaman Barat (Pasbar) berharap Bandara Perintis Laban Kapa bisa diaktifkan kembali. Pasalnya, keberadaan bandara tersebut dinilai amat vital, terutama saat terjadi bencana.
“Dengan aktifnya Bandara Laban bisa menjadi transportasi alternatif pendistribusian logistik jika Pasaman Barat terisolir saat bencana terjadi,” kata Kepala BPBD Pasbar, Armi Nindel melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagan Bencana, Zulkarnain, beberapa waktu yang lalu.
Dia menyebut, Kabupaten Pasbar adalah daerah rawan bencana seperti gempa, tsunami, longsor, banjir, gunung meletus, puting beliung, dan sebagainya, yang sulit diprediksi. Oleh karena lari dari daerah bencana tidak mungkin, maka upaya pemerintah adalah berusaha mengurangi risiko bencana agar tak terjadi banyak korban.
“Selain meminta mengaktifkan Bandara Laban ke pihak terkait, kami juga berharap pemerintah dapat membangun jalur evaluasi di sepanjang pantai Pasaman Barat yang panjang pantainya 152 km, yang berada di Nagari Mandiangain, Nagari Sasak, Nagari Sikilang, Nagari Sikabau, dan Nagari Aia Bangis’ Kawasan ini juga berpotensi dilanda tsunami akibat gempa. Daerah pantai itu dihuni oleh penduduk sekitar 40.000 jiwa penduduk,” kata Zulkarnain.
Menurut Zulkarnain, pentingnya diaktifkan Bandara Laban dan pembangunan jalan evakuasi sudah berdasarkan kajian risiko bencana BPBD Pasbar dengan tim teknis dan perguruan tinggi.
Tahun ini, pihak BPBD akan melaksanakan program pemasangan papan menunjuk arah jalur evaluasi tsunami di dua titik yang merupakan lokasi wisata di Pasbar, yaitu Nagari Tanah Koto Tinggi Sikabau dan Nagari Sasak, tepatnya di kawasan objek wisata Pohon Seribu.





