Pihaknya saat ini, juga sedang menyusun perencanaan dokumen kajian risiko bencana, bekerja sama dengan Universitas Negeri Padang (UNP). Adapun kajian rawan bencana di Pasbar, yakni sebanyak 11 jenis kebencanaan yakni, gempa, tsunami, banjir, longsor, gunung meletus, epidemi dan wabah penyakit, kegagalan teknologi, kebakaran hutan lahan, angin puting beliung, cuaca ektsrem, gelombang ekstrem atau abrasi pantai. Ini akan berguna untuk menentukan arah kebijakan pembangunan guna mengurangi risiko bencana.
“Dari dokumen Kawasan Rawan Bencana (KRB) itu kita akan bisa memetakan wilayah rawan bencana pada 11 kecamatan untuk menentukan arah kebijakan pemerintah daerah dalam pencegahan bencana di Pasbar. Insya Allah bulan Juni ini dokumen itu telah selesai dan bakal diajukan kepada pihak yang berkompeten,” kata Zulkarnaini.
Menyinggung keberadaan alat pendeksi tsunami (early warning system) di 9 titik yang ada di Kabupaten Pasbar, Zulkarnain mengakui memang sudah tidak aktif lagi. “Alat itu adalah milik BPBD Sumbar, dan pemeliharaannya juga berapa pada BPBD Sumbar dan telah kami koordinasikan,” kata Zulkarnaini.
Berbicara soal keberadaan shelter Padang Harapan Jorong Maligi, Jorong Sikilang, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie, ia menyebut sedang dalam pengerjaan. (ows)





