NASIONAL

Sarasehan Komunitas Sungai, Mengembalikan Jati Diri Sungai Sebagai Sumber Peradaban Bangsa

0
×

Sarasehan Komunitas Sungai, Mengembalikan Jati Diri Sungai Sebagai Sumber Peradaban Bangsa

Sebarkan artikel ini
Suasana saat berlangsungnya saresehan

Adapun gerakan pelestarian sungai telah dilakukan oleh masyarakat di seluruh Indonesia. Kegiatan sarasehan turut menghadirkan berbagai penggerak komunitas sungai untuk berbagi pengalaman serta praktik baik pengelolaan sungai yang dapat direplikasi pada wilayah lainnya di Indonesia.

Salah satu narasumber yang hadir yaitu Usman Firdaus dari komunitas DAS Ciliwung, Jakarta. Pada konteks ini, pengelolaan sungai Ciliwung wajib dilakukan dari hulu sampai hilir secara menyeluruh, tidak boleh dikelola sebagian saja. Sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran dan budaya untuk tidak membuang sampah ke area Sungai Ciliwung terus diperkuat kepada masyarakat Jakarta.

Kemudian narasumber lainnya adalah Kaharuddin Muji dari komunitas DAS Jeneberang, Sulawesi Selatan. Guna menjaga kelestarian Sungai Jeneberang, dibangun Sekolah Sungai untuk dapat membangun pengetahuan terkait pelestarian dan pengelolaan sungai sehingga dapat tersampaikan secara lintas generasi.

Baca Juga  Dana BOS Dipakai Tak Sesuai Aturan, Mendikdasmen Minta Semua Mengawasi

Selanjutnya I Gusti Rai Ari Temaja dari Komunitas DAS Tukad Bindu, Bali. Nilai adat dan masyarakat yang selalu berkesinambungan dapat membuat Sungai Tukad Bindu mampu menggerakan masyarakat setingkat “banjar” atau RW dalam mengelola sampahnya masing-masing dan menjaga kejernihan sungai.

Gerakan mitigasi vegetasi juga dilakukan untuk menjaga kawasan DAS Bengawan Solo di Gresik. Hal ini disampikan oleh perwakilan Komunitas DAS Bengawan Solo, Robah, yang mana sebanyak 200 hektar berisikan kurang lebih 500 ribu pohon telah ditanam dengan kolaborasi bersama dunia usaha sehingga kelangsungan dan kelestarian kawasan Sungai Bengawan Solo tidak terganggu oleh aktivitas masyarakat maupun dunia usaha.

Baca Juga  Pedati XIII, Kolaborasi untuk Bukittinggi Hebat dan Indonesia Maju

Gerakan perempuan turut menjadi penguat dalam pemulihan peradaban sungai. Hal ini dilakukan oleh Komunitas DAS Ogan Palembang, Sumatera Selatan. Jana Marlina, perwakilan Komunitas DAS Ogan Palembang, menyampaikan bahwa para perempuan turut berpartisipasi aktif dalam pembersihan sungai hingga melahirkan suatu kesenian baru melalui “Rahim Musi” sebagai sarana edukasi pengelolaan sungai kepada masyarakat sekitar.