UTAMA

Hitam Putih Nasib Novotel Bukittinggi

4
×

Hitam Putih Nasib Novotel Bukittinggi

Sebarkan artikel ini
Novotel Bukittinggi

Ia menjelaskan, dalam klausul pasal ke 9 kontrak kerja sama   diteken Pemprov Sumbar pada tanggal 27 Agustus 1990 lalu, dibunyikan bahwasanya bangunan hotel Novotel akan diserahkan kembali  kepada Pemprov Sumbar jika jangka waktu  Hak Guna Bangunan (HGB) telah dinyatakan berakhir.

“Novotel ini memiliki dua HGB, yaitu nomor 8 dan nomor 11. Yang satu mati tahun 2021, dan yang satu lagi mati pada bulan Juni 2023. Pertanyaannya sejak HGB mati bagaimana status Novotel itu?,” Tanyanya satir kepada peserta diskusi

Lebih jauh, politisi dari partai Demokrat ini menilai, pengelola hotel Novotel lebih tepat disebut sebagai manajer dibandingkan sebagai investor. Sebab faktanya, sejak awal ternyata mereka   tidak pernah menginvestasikan sepeserpun uangnya untuk membangun hotel Novotel. “Dari awal membangun hotel mereka utang bank, kemudian renovasinya utang lagi.  Karena ada utang itulah Pemprov tidak pernah mendapatkan untung,” jelasnya.

Baca Juga  Dinkes Padang Panjang Uji Kualitas Air Rumah Tangga

Praktik yang sangat merugikan Sumbar itu, kata Ali Tanjung semakin diperparah dengan tidak pernah dibentuknya satupun badan pengawas yang dapat mengawasi jalannya perjanjian kerjasama pengelolaan aset Pemprov Sumbar tersebut. “Jadi, selama ini ternyata kita hanya menunggu dan  menerima saja berapa keuntungan yang disisihkan mereka, jadi ini bukan investasi sebab hanya merugikan Pemprov Sumbar,” tegasnya.

Keuntungan Besar

Tidak menguntungkannya skema kerja sama BOP Pemprov Sumbar dengan pihak pengelola Novotel Bukittinggi, juga diaminkan oleh pemerhati ekonomi Bob Hasfian. Bahkan menurut Bob, berdasarkan hasil pembacaannya  terhadap laporan keuangan PT Grahamas  Citrawisata, keuntungan yang didapatkan hotel mewah berbintang lima  tersebut, bahkan sempat menyentuh  angka Rp19 miliar lebih pada tahun 2019 disaat pandemi Covid-19 sedang menggila.

Baca Juga  Melawat ke Yunnan (6) : Kuliner Halal; Enak di Rasa, Ramah di Kantong

“Tahun 2014 keuntungan mereka mencapai Rp19 miliar lebih. Tahun 2015 Rp12 miliar lebih, tahun 2016 Rp26 miliar lebih, tahun 2017 Rp27 miliar lebih , tahun 2018 Rp28 miliar lebih, tahun 2019 Rp30 miliar lebih, tahun 2020 Rp18 miliar lebih dan terakhir pada tahun 2021 keuntungan mereka mencapai Rp23 miliar lebih,” ujarnya menjabarkan keuntungan yang didapat pengelola Novotel setiap tahunnya.