Dari segi produksi, Sumbar masih mempertahankan status sebagai lumbung padi nasional, di mana per Desember 2022, produksi gabah kering panen (GKP) mengalami peningkatan 0,60 persen. Pun halnya dengan produksi pangan lainnya, seperti jagung, yang pada 2022 tercatat sebesar 120 ton. Termasuk produksi unggas yang pada 2022 tercatat sebesar 225.000 ekor.
Pun halnya dengan Progul Mencetak 100 Ribu Entrepreneur, dimana hingga 2022, Pemprov Sumbar tercatat telah membina sebanyak 188.133 entrepreneur. Dengan rincian, 633 digitalent, 14.902 millennial entrepreneur, 2.830 women entrepreneur, dan 153 SMK preneur. Di samping itu Pemprov juga memfasilitasi permodalan bagi 815 pelaku usaha dan izin usaha bagi 800 pelaku usaha.
“Dalam hal ini, kami memberikan pelatihan kewirausahaan, baik yang belum mulai berusaha maupun yang sudah punya usaha untuk mengembangkan usahanya. Pembinaan ini akan dilaksanakan dalam lima tahun dengan proporsi 20 ribu setiap tahunnya dari tahun 2022 sampai dengan 2026,” katanya.
Sementara dari sektor UMKM, yang sejak dahulu telah menjadi tulang punggung perekonomian Sumbar, juga terlihat terjadi peningkatan. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM), Sumbar berada di peringkat ke-8 sebagai provinsi dengan jumlah pelaku UMKM terbanyak di Indonesia, di mana hingga 2022 Sumbar tercatat memiliki 296.052 unit UMKM. Di Pulau Sumatera, Sumbar hanya berada di bawah Sumatera Utara di urutan ke-5 dan Sumatera Selatan di posisi ke-7.
Peningkatan jumlah UMKM ini tak terlepas dari berbagai upaya Pemprov Sumbar. Salah satunya dalam memfasilitasi permodalan bagi pelaku UMKM. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, pada 2022 terdapat 540 unit UMKM dan 265 pelaku UMKM yang difasilitasi dalam hal permodalan, baik yang bersumber dari perbankan maupun non perbankan.
“Peningkatan akses keuangan perbankan dan nonperbankan bagi UMKM dan pengusaha pemula dilakukan melalui fasilitasi dan peningkatan pemahaman terkait akses pembiayaan. Bentuk fasilitasi tersebut adalah mempertemukan kelompok UMKM dengan perbankan. Termasuk juga Edukasi tentang akses keuangan melalui lembaga non perbankan seperti CSR, fintech, serta dana dari lembaga keuangan Islam,” tuturnya.





