“Masyarakat harus mulai mewaspadai bahaya LGBT yang faktanya memang menjadi penyebar HIV terbanyak. Kemudian yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana menjadikan edukasi penularan HIV sejak dini sebagai kurikulum di sekolah-sekolah,” tegasnya.
Ia menyebut, edukasi bahaya HIV mesti disajikan dengan bahasa yang bagus serta sesuai dengan usia anak-anak. Adapun pokok edukasi yang harus disampaikan diantaranya, bahaya pergaulan atau seks bebas, pengenalan fungsi reproduksi, hingga edukasi mengenai otoritatif tubuh. “Kurikulum seperti itu harus mulai ditanamkan sejak anak duduk di bangku kelas 5 SD hingga SMA. Termasuk juga pengetahuan otoritatif atas tubuh anak yang perlu diberikan agar si anak terjauh dari tindakan pelecehan seksual,” pungkasnya. (h/fzi)





