Ia meminta bupati menyiapkan konsorsium untuk pengelolaan lahan pertanian. Pihaknya dari kementerian mendukung penuh dengan bantuan dana. “Mari kita rancang, bukan dengan bantuan, tetapi kenapa tidak dengan uang Rp10 miliar, atau Rp100 miliar berapa lahan yang tersedia. Jadi Pak Bupati, konsepsikan Rp100 atau Rp200 miliar tetapi harus kembali,” tuturnya.
Bawang Unggul
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Solok, pada 2019 terdapat 9.223 hektare (ha) lahan bawang merah di daerah itu, di mana 5.999 ha di antaranya berada di Kecamatan Lembah Gumanti.
Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) Institut Pertanian Bogor (IPB) telah melakukan penelitian, menyeleksi, dan menerapkan bawang lokal Kabupaten Solok sebagai salah satu prioritas riset nasional.
Beberapa kali hasil riset kemudian menyimpulkan, terdapat varietas unggulan bawang merah di kabupaten itu, yang kemudian diberi nama Bawang Merah Solok Sumbar Sakato atau disingkat Bawang Merah SS Sakato.
Kepala PKHT IPB, Dr. Awang Maharijaya, didampingi sejumlah pakar seperti Dr. Heri Harti, Dr. Kusuma Darma dan Dr.Endang Gunawan pada 2021 diwawancarai Haluan mengatakan, varietas SS Sakato sudah dikenal secara nasional. Bahkan, kini menjadi prioritas riset nasional karena diakui sebagai varietas berpotensi baik.
“Yang masuk program nasional itu dua. Pertama di Nganjuk, dan kedua di Kabupaten Solok. Jadi, di Indonesia hanya dua. Kabupaten Solok patut berbangga. Bawang merahnya salah satu yang diunggulkan,” tuturnya.





