BANYUASIN, HARIANHALUAN.ID – Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin menghadiri puncak Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-30 di Banyuasin, Sumatera Selatan (Sumsel), Kamis (6/7).
Pada pidatonya, Ma’ruf meminta peran keluarga dalam mencetak generasi penerus bebas stunting diperkuat. Dia mengatakan prevalensi stunting di Indonesia saat ini mencapai 21,6 persen, sementara pada 2024 prevalensi stunting ditargetkan menjadi 14 persen.
“Maka pada peringatan Hari Keluarga Nasional ke-30 ini, saya titip kepada seluruh keluarga Indonesia untuk terus memperkokoh peranan keluarga dalam mencetak generasi penerus yang bebas stunting, fisiknya, mentalnya maupun kehidupannya. Kelak mereka menjadi generasi yang mampu mengguncang dunia, seperti yang diucapkan oleh Presiden Soekarno,” ujarnya.
Ma’ruf juga menyinggung pidato Bung Karno soal 10 pemuda yang akan mengguncang dunia. Dia menyebut generasi muda Indonesia yang tumbuh dari keluarga yang kuat mampu berprestasi dan menghasilkan karya.
“Presiden Soekarno pernah berujar, ‘Beri aku 10 pemuda, niscaya akan aku guncang dunia’. Saya pun meyakini, insyaallah, generasi muda Indonesia mampu menghasilkan karya dan prestasi yang mengguncangkan dunia. Pemuda hebat tumbuh dari anak-anak yang diasuh dan dididik oleh keluarga yang kuat,” ujarnya.
Dia mengatakan pernikahan anak harus dihindari lantaran beresiko melahirkan anak stunting. Dia meminta setiap keluarga dapat memanfaatkan layanan di posyandu dan puskesmas untuk memantau kesehatan ibu hamil dan perkembangan anak.
“Patut menjadi keprihatian kita bersama, masih relatif tingginya angka pernikahan anak. Pernikahan anak mesti kita hindari karena lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya, termasuk berisiko lebih tinggi menghasilkan anak stunting,” ujar Ma’ruf.
“Saya juga meminta keluarga untuk memanfaatkan layanan di posyandu dan puskesmas untuk memantau kesehatan ibu hamil, serta pertumbuhan dan perkembangan anak,” tuturnya.
Ma’ruf mengatakan konsekuensi stunting tak hanya soal tinggi badan melainkan kualitas hidup yang buruk. Dia menyebutkan 6,3 juta balita Indonesia mengalami stunting pada 2020 lalu.
Ma’ruf mengatakan pencegahan stunting harus diperhatikan dengan serius. Dia mengatakan keluarga menjadi aktor kunci dalam pencegahan stunting.
“Mengutip kalimat UNICEF ‘Anak stunting memiliki badan dan otak yang stunting. Anak stunting memiliki kehidupan yang stunting pula’. Dampak penuh dari stunting di masa kecil mungkin baru termanifestasi dalam waktu bertahun-tahun ke depan, dan sudah terlambat untuk diatasi,” kata Ma’ruf.
“Oleh sebab itu, kita mesti serius melakukan upaya menurunkan angka stunting di negara kita. Sekali lagi saya mengutip laporan UNICEF, stunting dapat terjadi akibat anak kekurangan gizi dalam dua tahun usianya, ibu kekurangan nutrisi saat kehamilan, dan sanitasi yang buruk. Keluarga menjadi aktor kunci dalam mengatasi sebab-sebab stunting tersebut,” tambahnya.
Selain itu, Ma’ruf juga berharap setiap keluarga dapat memperkaya pengetahuan tentang pemenuhan gizi dan pengasuhan anak. Dia meminta petugas kesehatan menyediakan informasi terkait hal itu dengan mudah ke masyarakat.
“Saya harap keluarga Indonesia terus memperkaya pengetahuan tentang pemenuhan gizi dan pengasuhan anak agar optimal. Saya minta petugas kesehatan untuk menyediakan informasi yang mudah dipahami dan lengkap terkait hal tersebut, baik secara langsung maupun melalui portal-portal digital,” ujarnya.
Sementara itu, pada peringatan puncak Harganas ke-30, BKKBN Provinsi Sumbar meraoh 4 nominasi. Diantaranya juara 2 nasional lomba jingle-dance challange ajang kespro kawula muda (AkuKamu). Terbaik 2 Kelompok KB Pria “Perkasa” Kota Solok mendapatkan regional 2. Kemudian juara 2 nasional dengam kategori provinsi dengan persentase pengisian kartu kembang anak (KKA) terbanyak. Dan juara 3 nasional provinsi dengan cakupan pengisian KKA terbanyak. (h/yes)














