Ayo Baca Koran Harian Haluan

Edisi 1 Januari 1970
UTAMA

Pengamat Kebijakan Publik Dr. Aidinil Zetra, MA :  Studi Tiru Sudah Ketinggalan Zaman dan Tidak Efektif

1
×

Pengamat Kebijakan Publik Dr. Aidinil Zetra, MA :  Studi Tiru Sudah Ketinggalan Zaman dan Tidak Efektif

Sebarkan artikel ini
Pakar Kebijakan Publik dari Universitas Andalas (UNAND),  Dr. Aidinil Zetra, MA

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Andalas (UNAND),  Dr. Aidinil Zetra, MA menilai,  agenda transfer kebijakan atau policy transfer berbalut kegiatan  studi tiru, studi banding atau benchmarking, merupakan salah satu program yang lazim dilaksanakan  berbagai lembaga pemerintahan tanah air.

Namun pada prakteknya,  agenda yang sering dilaksanakan  guna mempelajari kebijakan yang berjalan di suatu tempat dan akan diadopsi di tempat lain ini pun, belum benar-benar terbukti efektif dalam melahirkan suatu kebijakan yang tepat bagi masyarakat dan daerah.

“Persoalannya transfer kebijakan atau policy transfer melalui studi tiru ini, tidak efektif untuk menyusun kebijakan, sebab studi tiru butuh biaya dan energi besar. Apalagi sampai meninggalkan pekerjaan pelayanan kepada masyarakat, “ ujarnya kepada Haluan Selasa (11/7) kemarin.

Baca Juga  15% Pelanggan PLN di Sumbar Masih Telat Bayar Tagihan Listrik

Aidinil Zetra menyebut, metode transfer kebijakan lewat agenda studi tiru maupun istilah lainnya, sejatinya telah ketinggalan zaman di tengah era perkembangan teknologi komunikasi yang sudah semakin berkembang seperti saat ini.

Sebab menurut dia, jika memang tujuannya hanyalah untuk mempelajari kebijakan di daerah lain, hal itu bisa dilakukan  dengan menggunakan berbagai alat komunikasi seperti misalnya zoom meeting dan lain sebagainya.

“Jadi, jika ingin mempelajari yang baik dari daerah lain, tidak harus ke sana (Makassar, red). Ini sering tidak disadari. Sehingga kemudian mereka berbondong-bondong dengan anggaran besar pergi ke daerah lain tanpa memberikan dampak positif,” ucapnya.

Baca Juga  Polda Ungkap Motif Pembunuhan Gadis Penjual Gorengan di Padang Pariaman

Akibat dari telah terlanjur menjadi tradisinya  pelaksanaan transfer policy yang pasti memakan biaya besar ini, sebut Aidinil, pada akhirnya produk kebijakan yang dilahirkan kerap tidak cocok dengan kondisi serta kebutuhan riil masyarakat di daerah.

Sebab bagaimanapun kata dia, setiap kebijakan yang dilahirkan mesti berorientasi terhadap penyelesaian akar permasalahan publik yang notabene pasti berbeda-beda dalam segi sosial, ekonomi, budaya maupun politik setiap daerah

“Apalagi selama ini masing-masing daerah mengalami persoalan yang berbeda. Untuk itu kebijakan mesti sesuai situasi ekonomi, sosial budaya dan politik,  kekeliruan ini sering  menyebabkan kegagalan kebijakan. Karena prosesnya saja sudah ditempuh dengan cara yang salah,” pungkasnya mengakhiri. (h/fzi)