“70 persen lagi berada di arah timur yang merupakan daerah punggung Bukit Barisan. Sedangkan di Kawasan Barat adalah dataran rendah atau laut yang rawan sekali terendam banjir saat terjadi curah hujan ekstrim,” terangnya.
Kondisi topografis kota Padang itu, sambung Isril Berd, sayangnay tidak disikapi pemerinyah dengan penyediaan sistem drainase air hujan yang memadai. Akibatnya, beberapa daerah di Kota Padang selalu menjadi kawasan langganan banjir setiap tahunnya.
Ia membeberkan, rata-rata curah hujan pertahun yang turun di Kota Padang, tercatat lebih dari 3.500 milimeter pertahun. Curah hujan ini terbilang tinggi. bahkan di beberapa daerah seperti misalnya kawasan kampus Limau Manih Unand, curah hujan tercatat bisa mencapai 4.500 milimeter pertahun.
“Di indarung bahkan sampai 5 ribu milimeter pertahun. Sedangkan kota- kota lain di indonesia, curah hujannya hanya berkisar dibawah 3 ribu milimeter pertahun,” terangnya.
Atas tingginya curah hujan itu, sebut Isril Berd, sudah semestinya Kota Padang memiliki sistem drainase yang memiliki spesifikasi lebih baik dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia yang memiliki curah hujan lebih rendah .
“Anehnya, meski Kota Padang dan Kabupaten lainnya telah berulang kali di landa banjir dan longsor, sampai saat ini masih belum ada satu pun kepala daerah yang memiliki rencana jangka panjang atau grand design penanggulangan banjir,” ucapnya.





