Pakar Ekonomi Universitas Negeri Padang (UNP), Dr Hasdi Aimon M.Si, menilai, fenomena kelangkaan LPG 3 kilogram bersubsidi yang terjadi di berbagai wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) beberapa waktu belakangan, merupakan akibat dari adanya pola pergeseran konsumsi gas masyarakat. Pergeseran pola konsumsi tersebut, disebabkan karena pemerintah hanya memberikan subsidi harga terhadap LPG 3 kilogram jenis melon. Sementara untuk pembelian LPG ukuran 12 kilogram, pemerintah memberlakukan harga normal.
“Ada perbedaan harga yang relatif mencolok antara gas 3 kilogram dan 12 kilogram akhirnya pengguna gas 12 kilogram lebih memilih membeli gas 3 kilogram yang lebih murah,” ujarnya kepada Haluan Minggu (30/7) malam di Padang.
Lebih diminatinya gas 3 kilogram yang notabene lebih murah oleh masyarakat ini, jelas Hasdi Aimon, pasti berdampak terhadap ketersediaan stok LPG 3 kilogram bersubsidi yang tersedia di pangkalan atau supplier. “Artinya, meskipun Pertamina melakukan penambahan stok, namun penambahan itu jika dianalisis belumlah bisa menciptakan keseimbangan stok dan permintaan. Akibatnya terjadi kelangkaan,” tuturnya.
Ia menerangkan, perubahan pola konsumsi masyarakat terhadap komoditas LPG bersubsidi ini memang telah disadari memicu terjadinya kelangkaan gas di berbagai daerah di Indonesia termasuk Kota Padang sejak beberapa waktu belakangan.
Atas dasar itu, Hasdi Aimon meminta pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan subsidi gas yang berlaku saat ini. Sebab menurut dia, jika subsidi hanya diberikan kepada gas 3 kilogram, kalangan masyarakat atas yang tidak seharusnya menerima subsidi gas, pasti akan tetap berusaha mendapatkan gas subsidi yang harganya lebih murah.
“Misalnya saja para pedagang dan pelaku usaha, mereka pasti akan lebih memilih menggunakan gas 3 kilogram yang murah. Sebab jika mereka membeli gas 12 kilogram, harga pokok dagangan mereka pasti akan naik dan keuntungan yang didapatkan akan semakin sedikit,” katanya.





