“Dulu saat mempertahankan kemerdekaan ini berlangsung, keberadaan Mr. Syafruddin Prawiranegara di Bidar Alam diketahui oleh penjajah Belanda. Sehingga sulitnya masuk ke Bidar Alam ini dari jalur darat, penjajah Belanda pun ingin menghancurkan Bidar Alam dengan cara hujan bom di udara,” katanya.
Tepat pada masa peristiwa penjatuhan bom itu, pesawat tempur dari penjajah Belanda pun diluncurkan ke Bidar Alam. Saat pesawat tempur itu berada di atas Bidar Alam dan akan dihujani bom, si Olang Barantai inilah yang akhirnya menyelamatkan Bidar Alam dari upaya pengeboman oleh Belanda tersebut.
“Saat pesawat tempur Belanda mengitari Nagari Bidar Alam ini, ternyata Olang Barantai mengiringi penerbangan pesawat tempur itu. Dan pada saat bom dijatuhkan, Olang Barantai ini berhasil menggagalkannya, sehingga akhirnya Bidar Alam selamat dari rencana penghancuran,” ujarnya menceritakan.
Keberadaan Olang Barantai itupun diyakini masyarakat sebagai penangkal bala dari segala ancaman yang akan merusak Nagari Bidar Alam itu sendiri. Termasuk peristiwa Olang Barantai yang mampu menggagalkan usaha Belanda untuk memporak-porandakan Bidar Alam.
“Jika ada peristiwa buruk dan Olang itu berkulik-kulik, kami yakin itu dari Olang Barantai yang akan mengamankan Bidar Alam ini dari suatu keburukan,” ujarnya.
Merawat Dua Hal Penting dari Kesinambungan
Di samping itu, tercatat juga bahwa perjuangan Mr. Syafruddin Prawiranegara di Bidar Alam ini terbilang lama, di mana hampir kurang dari tiga bulan peristiwa PDRI berlangsung di Solok Selatan ini, tepatnya di Bidar Alam dan Abai.





