Namun pada pileg, kemenangan akan sangat ditentukan oleh kemampuan para relawan dan tim sukses yang bergerak di lapisan akar rumput, “Masyarakat juga cenderung memilih kandidat yang mampu memberikan kepastian dan meyakinkan masyarakat bahwa ia layak untuk dipilih,” kata Arifki.
Alasan pertimbangan rasional masyarakat pemilih ini, lanjutnya, juga menjelaskan kenapa ada caleg yang bisa terpilih meskipun ia tidak memiliki modal finansial politik yang kuat. “Makanya caleg yang punya modal sosial, akan punya kans kemenangan lebih tinggi daripada caleg yang hanya mengandalkan informasi dan menebar uang agar dipilih masyarakat,” ungkapnya.
Realitas politik itu, kata Arifki juga disebabkan karena masyarakat pemilih saat ini sudah mulai cerdas, mereka punya mindset ambil uangnya dan jangan pilih orangnya. Pola pikir anti politik uang ini sudah mulai terbentuk.
Ia menambahkan, bagi para caleg, hal yang sangat menentukan kemenangan dan keterpilihan mereka adalah modal sosial dan tingkat popularitas mereka di luar masa kampanye di masyarakat.
Dijelaskannya, seorang caleg yang aktif dan sering membantu masyarakat dalam hal-hal yang paling sederhana di luar masa kampanye, akan cenderung lebih awet dan lekat dalam ingatan masyarakat pemilih.
“Jadi, meski Caleg mantan kepala daerah unggul secara ketokohan dan popularitas, namun itu bukan jaminan, yang sangat menentukan adalah sejauh mana mereka merawat basis masa setelah mereka tak lagi menjabat kepala daerah,” pungkasnya. (h/fzi)





