Memasuki turun ke sawah serentak ini, tradisi mambantai kabau nan gadang ini sekaligus juga menjadi sebuah prosesi adat yang bermaksud sebagai penangkal bala dalam kegiatan ke sawah nantinya. Pencegahan akan hama yang menyerang sawah nantinya diharapkan dapat diatasi dan hasil panen padi selanjutnya akan semakin bertambah.
Tradisi ini juga merupakan sebuah kesadaran langsung dari masyarakat Simancuang yang terus dijaga dan dilaksanakan secara turun-temurun. Banyak hal dan nilai-nilai kebajikan yang dibalut dalam tradisi Mambantai Kabau nan Gadang ini, sehingga dengan kesadaran langsung tradisi tersebut berjalan dengan semestinya tanpa adanya hambatan.
“Kebersamaan dalam tradisi ini jelas memperkuat hubungan silaturahmi kita antar sesama masyarakat. Dan yang paling penting dari kegiatan ini dapat meningkatkan kesatuan dan persatuan kita,” kata Irman Syahputra melanjutkan.
Hanya modal kesadaran dan gotong royong, masyarakat Simancuang dapat menyediakan seekor kerbau besar sebagai syarat wajib dalam pelaksanaannya. Dengan iuran masyarakat ala kadarnya, segala syarat dari yang besar hingga kecil dapat dipenuhinya dan Mambantai Kabau nan Gadang berjalan sebagaimana mestinya.
“Masyarakat Simancuang cinta dan begitu bangga. Ada yang menyumbangkan perkakas dapur, bumbu-bumbu masak, menyumbangkan kayu bakar. Ini benar-benar pengorbanan dan sukarela yang tidak bisa dibeli dengan apa-apa. Kebersamaan ini menggambarkan segala halnya dapat kita capai,” ujarnya.
Setelah membantai kerbau, memasaknya, dan diakhiri dengan makan gadang atau bajamba, selanjutnya masyarakat Simancuang melaksanakan doa bersama sebagai wujud rasa syukur, kebersamaan, dan harapan atas hasil yang semakin membaik ke depannya.





