NASIONAL

Karhutla di Bumi Lambung Mangkurat Masih Terjadi

0
×

Karhutla di Bumi Lambung Mangkurat Masih Terjadi

Sebarkan artikel ini
Stasiun Global Atmosphere Watch atau Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang mencatat, sejak 26 Oktober 2024 ada sebanyak 27 titik panas
Stasiun Global Atmosphere Watch atau Pemantau Atmosfer Global Bukit Kototabang mencatat, sejak 26 Oktober 2024 ada sebanyak 27 titik panas

KALSEL, HARIANHALUAN.ID — Sampai hari Kamis (21/9), karhutla masih merajalela di wilayah Kalimantan Selatan. Memang tak bisa dipungkiri, sengatan terik matahari musim kemarau berkepanjangan yang melanda Kalimantan Selatan ini membuat lahan semakin kering kerontang dan panas sehingga mudah terbakar.

Upaya demi upaya sebenarnya sudah dilakukan tim gabungan dari lintas instansi terkait. Pemadaman darat dan udara terus digenjot demi mengendalikan api. Namun toh masih belum membuahkan hasil yang maksimal. Sebab, titik-titik api ini tersebar di beberapa lokasi yang terkadang memang sulit dijangkau oleh tim pemadaman darat. Pun satgas udara masih kewalahan sehingga dibutuhkan tambahan armada, mengingat sebaran titik api terlalu banyak.

Baca Juga  Dialog Bersama Warga Terdampak Erupsi Gunung Lewotobi Laki-Laki, Prioritaskan Percepatan Pembangunan Huntap untuk Relokasi

Menjawab soal itu, BNPB akan menambah armada helikopter water bombing termasuk rencana Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Hal itu diputuskan setelah Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melihat langsung bagaimana kondisi di lapangan pada Kamis (21/9).

Melalui pantauan udara, Suharyanto menemukan titik api yang tersebar tak hanya di satu lokasi saja. Bahkan, jika ditarik garis lurus, lokasi titik api ini sangat dekat sekali hanya kurang dari dua mil saja dengan Bandara Syamsudin Noor, sebagai pintu masuk udara ‘Bumi Lambung Mangkurat’. Itu pula yang kemudian disinyalir menjadi biang kerok tertundanya jadwal penerbangan beberapa hari kemarin akibat jarak pandang terbatas karena terhalang kabut asap.

Baca Juga  Presentasi Uji Publik, Wamen ATR/BPN Dukung Keterbukaan Informasi Publik

Tambahan armada water bombing akan didatangkan dari Pulau Jawa, setelah helikopter menyelesaikan misi penanganan karhutla maupun kebakaran Tempat Penampungan Akhir (TPA) di beberapa lokasi di sana. Sedangkan terkait TMC, pihak BNPB akan berkoordinasi dengan BMKG termasuk BRIN dan TNI/Polri. Sebab, ada hal-hal yang harus dicermati agar upaya TMC ini betul-betul membuahkan hasil. Selain faktor pembentukan awan hujan, ada hal yang juga harus menjadi atensi yakni adanya kelompok petani durian dan beberapa jenis tanaman produksi lainnya yang justru dapat terpengaruh akibat adanya TMC menggunakan NaCl ini. (h/rel)