Brigade Dalkarhutla
Kepala Dinas Kehutanan (Dishut) Sumbar, Yozarwardi, menyebut, dalam upaya antisipasi dan penanganan karhutla, Dishut Sumbar telah terbentuk Satuan Tugas (Satgas) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) baik di tingkat provinsi maupun di UPTD KPH atau dikenal dengan Brigade Dalkarhutla. Selain itu, pihaknya juga telah menyiapkan sarana dan prasarana penunjang, mulai dari peralatan manual, semi mekanis, hingga mekanis.
“Nah, Brigade Dalkarhutla ini sudah turun ke lapangan untuk melakukan pemantau sekaligus pemadaman. Seperti yang baru-baru ini dilakukan Brigade Dalkarhutla Pessel, yang telah turun memadamkan api di Silaut,” ujarnya.
Selain mengandalkan Brigade Dalkarhutla, Dishut Sumbar sebelumnya juga sudah membentuk Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat nagari. MPA merupakan lembaga yang dibentuk dengan cara memberdayakan masyarakat nagari di sekitar daerah rawan karhutla untuk membantu petugas dalam pengendalian karhutla. “Mereka itu menjadi ujung tombak kita dalam melakukan edukasi serta penanganan bila terjadi karhutla. Karena mereka yang berada langsung di lokasi karhutla, jadi bisa langsung bergerak begitu terjadi karhutla,” katanya.
Di sisi lain, guna mengantisipasi kejadian karhutla, pihaknya juga terus menggalakkan berbagai kegiatan sosialisasi dan edukasi. Termasuk juga patroli, bimbingan teknis kepada MPA, Rapat Koordinasi Dalkarhutla, apel siaga, dan penanggulangan/pemadaman secara terpadu dengan melibatkan instansi terkait, seperti BPBD, TNI, dan Polri. “Semua pihak kami libatkan, bersama-sama berupaya agar masyarakat tidak lagi dengan sengaja membakar lahan,” ujarnya.
Menurutnya dengan adanya musim kemarau saat ini dan adanya anomali El Nino, Dishut mengharapkan kepada seluruh lapisan masyarakat agar berhati-hati dan bijak dalam menggunakan api, baik itu disengaja maupun tidak disengaja, terutama dalam rangka membuka lahan untuk berkebun atau bertani.
Bagaimanapun, katanya, 99 persen penyebab karhutla adalah manusia, dan hanya satu persen yang disebabkan oleh alam. “Tidak hanya disengaja, seperti dengan membakar lahan, tapi juga lewat tindakan-tindakan yang tidak disengaja, seperti membuang puntung rokok di kawasan rawan karhutla. Atau bisa juga karena aktivitas camping atau api unggun di kawasan hutan. Di mana saat mematikan api unggun tidak teliti, sehingga masih menyisakan bara api yang kemudian menjalar dan menyebabkan terjadinya kebakaran. Atau seperti yang terjadi di Bromo, gara-gara aktivitas foto prewedding menggunakan flare, akibatnya terjadi karhutla,” tuturnya.





