PADANG, HARIANHALUAN.ID — Direktur Eksekutif Sumatera Barat Leadership Forum (SBLF), Edo Andrefson, menilai gejala tren politik dinasti di Sumatera Barat (Sumbar) sejauh ini memang masih belum semasif dan separah praktik politik dinasti yang telah terjadi di berbagai wilayah di Pulau Jawa.
Indikasi praktik politik dinasti di Sumbar sejauh ini baru terlihat terjadi di satu daerah. Yakninya di Kabupaten Solok Selatan yang saat ini dipimpin Khairunnas selaku Bupati dan Zigo Rolanda selaku Ketua DPRD. Keduanya memiliki hubungan ayah dan anak.
“Meskipun mereka menang lewat pemilihan secara demokratis yang adil, konstitusional dan legal, namun ada anggapan bahwa politik dinasti seharusnya tidak boleh terjadi,” ujarnya kepada Haluan Selasa (17/10).
Edo berpandangan, politik dinasti semestinya tidak menjadi masalah selama kandidat yang diusung berkompeten dan tidak melulu mengandalkan kekayaan harta atau bahkan nama besar ayah, ibu, keluarga maupun trah garis keturunan mereka.
“Selama mereka memang berkompeten, berwawasan, dan menang lewat cara-cara legal yang konstitusional, saya kira sah-sah saja, Politik dinasti tidak menjadi persoalan di Sumatra Barat,” terangnya.
Namun terlepas dari hitam putih benar atau salahnya politik dinasti , sambung Edo, politik dinasti pasti tetap akan berefek negatif terhadap jalannya roda pemerintahan dan pengambilan kebijakan dan keputusan jangka panjang di daerah.





