KABA RANAH

Desa Tanggap Konflik Satwa Liar, Bersama Pagari Jaga Hutan dan Satwa Nagari Pasie Laweh

0
×

Desa Tanggap Konflik Satwa Liar, Bersama Pagari Jaga Hutan dan Satwa Nagari Pasie Laweh

Sebarkan artikel ini
Wali Nagari Pasia Laweh, Kabupaten Agam, Zul Arfin, menerima penghargaan dari Menteri LHK, Siti Nurbaya, sebagai ‘Desa Tanggap Konflik Satwa Liar’ Rabu (8/11) di Jakarta. IST

Tim Pagari tersebut sudah dilatih untuk penanganan konflik satwa liar di Nagari Pasia Laweh tersebut. Mereka sudah terlatih dengan keterampilan yang diberikan oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) untuk mengenali tanda-tanda keberadaan satwa liar.

“Mereka dibekali dengan peralatan navigasi darat serta terlatih mengoperasikan kamera trap. Sejauh ini, kita sudah melakukan penggagalan upaya oknum yang ingin menangkap satwa liar dan sudah berhasil menggagalkan sebanyak 11 kali,” ujar Zul Arfin.

Dalam mendukung Pagari, Pemerintah Nagari Pasia Laweh memberikan dukungan berupa kegiatan dan pendanaan.  Ada aturan adat nagari mengenai adab menghadapi Harimau. “Kami melakukan kegiatan berupa pembinaan di lapangan, memberikan bantuan sarana dan prasarana, memberikan anggaran APBNagari Pasia Laweh sebesar 25 juta dan kami lakukan konsultasi secara terus menerus,” katanya.

Ia menyampaikan rasa syukur atas capaian Nagari Pasia Laweh sebagai Desa Tanggap Konflik Satwa Liar. “Alhamdulillah, kami menerima penghargaan sebagaimana yang tertulis dalam piagam pada acara Peringatan Hari Konservasi Alam Nasional di Taman Wisata Alam yang diberikan langsung oleh Menteri KLH di hadapan para tamu dan undangan dari seluruh Indonesia. Ini adalah suatu kebanggaan dan kehormatan bagi kami karena sudah diberikan apresiasi sebagai motivasi,” kata Zul Arfin.

Dengan meraih anugerah tersebut, ia berharap bisa memberikan motivasi kepada anak-anak nagari supaya bisa lebih baik lagi ke depannya dalam menjaga satwa-satwa liar dari oknum yang tidak bertanggung jawab. “Kami juga berharap bisa mengajak Wali Nagari se-Sumbar yang lain untuk bersama-sama menjaga dan keanekaragaman hayati di Sumbar yang notabenenya adalah hutan yang mungkin saja terjadi konflik satwa dan perlindungan terhadap fauna yang dilindungi oleh negara,” tuturnya.

Atas penghargaan tersebut, ia menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh pihak terkait dan juga masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam mewujudkan Desa Tanggap Konflik Satwa Liar.