“Indeks Pembangunan Manusia Sumbar pada tahun 2022 lalu adalah yang tertinggi ke sembilan tingkat nasional. Laju Pertumbuhan Ekonomi Sumbar, pada tahun 2022 lalu hanya 4,36. Namun pada triwulan 1 sampai 3 tahun 2023 ini, angkanya meningkat menjadi 4,79, Peningkatan pertumbuhan ekonomi ini bahkan melebihi target yang hanya sebesar 4,57 persen,” ujarnya kepada Haluan Senin (27/11).
Pada tahun lalu, sambung Medi, PDRB ADHK Sumbar berhasil menembus angka 32.37. Nilai ini melampaui target yang hanya senilai 32.00. Sementara PDRB ADHB perkapita Sumbar tahun 2022 lalu, berada di angka 50,59. Nilai ini diketahui juga berhasil melampaui target yang ditetapkan sebelumnya senilai 48.29.
Disamping itu, Medi menambahkan, rasio Sumbar pada tahun 2022 lalu senilai 0,292 yang menempatkan Sumbar menjadi daerah dengan nilai indeks gini rasio terendah keempat di Indonesia. Sedangkan per Maret tahun 2023 ini, Indeks gini rasio Sumbar semakin turun menjadi 0,280 sehingga menjadi provinsi dengan nilai indeks gini rasio terendah ketiga di Indonesia.
Lebih lanjut, Medi menyampaikan bahwa pada tahun 2022 lalu, tingkat kemiskinan Sumbar di angka 6,04 persen, dan kembali berhasil ditekan menjadi 5,90 persen per Maret 2023. Berdasarkan data Bappeda per Maret 2023 kemarin, jumlah penduduk miskin yang tersisa di Provinsi Sumbar hanya tinggal sebanyak 340,37 jiwa. Jumlah itu, telah berkurang dari tahun 2022 sebelumnya yang mencapai angka 343,82 jiwa
Menurut Medi, capaian ini tidak terlepas dari program penanggulangan kemiskinan yang digencarkan oleh Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) Daerah. “Tingkat kemiskinan Sumbar saat ini bahkan menempati urutan ke enam tingkat nasional,” katanya.
Medi juga mengatakan, pada tahun 2023 ini persentase kemiskinan ekstrem di Sumbar juga telah berhasil ditekan dari angka 0,77 persen pada tahun 2022 menjadi 0,41 persen per bulan Maret 2023 kemarin.





