Tamat SMA, awalnya Suharyono dan kakaknya ingin menjadi tentara dan siap untuk ditugaskan ke Timor-Timur. Tapi, niat itu dilarang ibu mereka.
Suharyono pun mencari jalan agar bisa meringankan beban keluarga. Saat ada lowongan menjadi PHL di Statistik, dia langsung mendaftar dan diterima. Tugasnya, ya cleaning service. Tidak soal, dijalani saja.
Dalam episode berikutnya, pada 1986, Suharyono mendaftar jadi polisi melalui jalur Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Tapi, nasib belum berpihak padanya. Dia gagal pada seleksi akhir.
Tahun berikutnya, 1987, ketika ada lagi lowongan penerimaan polisi, Suharyono mendaftar kembali. Kali ini dia mengambil jalur bintara. Dan, lolos.
“Belum lama dinas dengan pangkat Sersan Dua, ada kesempatan mengikuti tes Akabri lagi tahun 1989. Saya mendaftar lagi. Alhamdulillah, lolos,” kata Suharyono.
Empat tahun mengikuti pendidikan sebagai Taruna, Suharyono lulus tahun 1992 sebagai Adhi Makayasa atau lulusan terbaik.





