PADANG PARIAMAN

Divo Suhandra, Sang Pakawan Itu Sudah Meninggal

0
×

Divo Suhandra, Sang Pakawan Itu Sudah Meninggal

Sebarkan artikel ini

HARIANHALUN.ID – Divo Suhandra, sang pakawan baru saja menamatkan kuliah di Universitas Bung Hatta (UBH), menjadi korban erupsi Gunung Marapi, Agam Sumatra Barat (Sumbar). Pemuda 22 tahun sempat menghubungi keluarga ketika Gunung Marapi erupsi pada Minggu petang, 3 Desember 2023.

Jenazah alumni jurusan ilmu hukum itu baru ditemukan oleh tim SAR gabungan pada Selasa sore, 5 Desember 2023, langsung dibawa ke Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi.

Kemudian diserahkan kepada pihak keluarga. Jenazah baru sampai di rumahnya Pasar Pakandangan, Kecamatan Enam Lingkung pada malam hari sekitar pukul 23.00 WIB. Siang harinya, korban dimakamkan di tempat pemakaman umum Pincuran Tujuh, Nagari Pakandangan.

Baca Juga  Tekan Angka Kasus Kekerasan di Padang Pariaman, Penyedia Layanan Perlindungan Perempuan dan Anak Ikuti Bimtek

Isak tangis keluarga mengiringi pemakaman Divo Suhandra. Kesedihan juga menyelimuti rekan sejawat korban, sewaktu mengeyam pendidikan di universitas tersebut dan teman-teman Spartacks Padang.

Tampak berjejeran papan ucapan turut berduka cita dari Semen Padang FC, Spartacks Padang, Spartacks Padang dan Yogyakarta, serta caleg.

Ayah korban, Buyung Rayo menceritakan, Divo merupakan anak pakawan, dia anak pertama dari dua bersaudara, adiknya masih sekolah dan ibunya sudah meninggal saat Divo masih sekolah. Sebelum kejadian, Divo sempat pamit kepadanya untuk naik Gunung Marapi, Agam.

“Ia memang hobi naik gunung, hampir tiap libur kuliah dia naik gunung,” kata Buyung Rayo di rumah duka, Pakandangan, Rabu (6/12/2023).

Baca Juga  Kantah dan Pemkab Padang Pariaman Komit Sertifikatkan Tanah Pemerintah

Sewaktu erupsi, Divo sempat memberi kabar kondisi Gunung Marapi. Korban juga mengirim keberadaan lokasinya, tapi setelah itu putus kontak dengan keluarga.

“Menurut informasi dari kawannya, dia merupakan ketua rombongan yang menyuruh temannya untuk segera kembali ke posko di Batu Palano, pascaerupsi Minggu tersebut,” ujarnya.

Divo sendiri tidak sanggup untuk berjalan, karena kakinya patah akibat benturan batu, akhirnya dia hanya menunggu pertolongan di Gunung Marapi.

“Divo akhirnya meninggal, baru ditemukan pada Selasa sore,” ujar Buyung Rayo saat bercerita dengan kakaknya Ibrahim. (*)