Upaya itu, diikuti dengan dorongan program hilirisasi produk pertanian yang dilakukan dengan mengembangan unit-unit produksi hasil pertanian masyarakat yang telah ada di beberapa daerah. “Kita juga membangunkan bangsal-bangsal pengolahan hasil pertanian disamping memberikan pelatihan dan pendampingan pengolahan hasil pertanian agar produk yang dihasilkan petani mengalami pertambahan nilai,” ungkapnya.
Ferdinal Asmin menyebutkan, salah satu persoalan yang dihadapi oleh petani Sumbar ini adalah ketersediaan pupuk bersubsidi yang saat ini jenisnya terus dikurangi oleh pemerintah pusat. Dikatakannya, subsidi pupuk dari pemerintah pusat pada tahun ini bahkan hanya diberikan kepada jenis pupuk NPK saja. Kondisi ini mau tidak mau harus membuat petani beralih kepada penggunaan pupuk organik sebagaimana yang telah dikampanyekan Distanhortbun sejak beberapa tahun belakangan.
“Alhamdulillah, sejak tahun 2022 dan 2023 lalu, kita telah mendorong pengembangan budidaya pertanian dengan menggunakan bahan-bahan alami. Sebab prinsipnya adalah bagaimana petani bisa memenuhi kebutuhan dengan sumber daya lokal dengan cara mengolah pupuk organik atau sebagainya,” kata dia.
Ferdinal Asmin menjelaskan, dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), Nilai Tukar Petani (NTP) sektor perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura ditargetkan berada pada angka 101.
“Sementara pada tahun ini, NTP petani kita rata-rata berada pada kisaran angka 109, 110, atau bahkan pernah sampai mencapai 112. Naik turunnya NTP yang dijadikan indikator kinerja dinas ini, sangat ditentukan oleh harga produk komoditas,” ungkapnya.





