“Dan semangatnya adalah, kekeliruan itu aib, harus ditutup-tutupi. Semangat ini juga dialami oleh guru dan satuan pendidikan yang masih menggunakan paradigma kedua, yakni paradigma pencapaian,” terang Bukik.
Penilaian kinerja guru dengan paradigma pencapaian berorientasi pada hasil. Oleh karenanya, cirinya adalah banyak indikator dan monitoring untuk memastikan pencapaian. Sedangkan saat ini, penilaian kinerja guru dan kepala sekolah yang baru diluncurkan, menggunakan paradigma pembelajaran.
Adapun ciri-cirinya adalah, (1) memastikan pertumbuhan, (2) banyak kesempatan dan dukungan belajar, (3) umpan balik menstimulasi pertumbuhan, (4) membangun perubahan praktik, (5) kekeliruan dibuka sebagai kesempatan belajar.
“Guru tidak dituntut untuk jadi superman yang serba sempurna, harus selalu benar. Yang dinilai adalah kemampuan refleksi dan belajarnya. Ketika dilakukan observasi kinerja belum efektif, masih kesulitan, boleh, justru itu sumber belajarnya, itu yang ditingkatkan,” tutur Bukik.
Ciri Transformasi Pengelolaan Kinerja Guru dan Kepala Sekolah
Terdapat tiga hal yang menjadi ciri pengelolaan kinerja guru dan kepala sekolah saat ini. Hal ini juga telah tercantum di Platform Merdeka Mengajar.
- Merdeka dari Beban Administrasi
- Merdeka Memilih Indikator yang Relevan
- Merdeka Unjuk Kinerja yang Berdampak





