PARIWISATA

Desa Wisata Peraih ADWI 2021 di Pariaman Terancam Ditutup

11
×

Desa Wisata Peraih ADWI 2021 di Pariaman Terancam Ditutup

Sebarkan artikel ini
Menparekraf RI, Sandiaga Uno menanam bakau saat kunjungan dalam rangka penilaian ADWI ke Desa Wisata Apar, Kota Pariaman pada tahun 2021 lalu. Berhasil meraih penghargaan ADWI pada 2021, desa wisata itu kini terancam ditutup lantaran konflik berkepanjangan antara pengelola dan masyarakat setempat. IST

“Jawaban dari pihak KAN bahwa tanah itu milik nagari dan BUMDes boleh mengelolanya. Selagi digunakan untuk kegiatan ekonomi masyarakat, aman,” ujarnya.

Setelah memastikan status tanah area Desa Wisata Apar dan menyelesaikan program pembangunan jembatan, Fadel merasa bisa bernapas lega. Pada Maret tahun 2021, destinasi wisata tersebut dibuka dengan pengelolaan yang lebih baru.

“Kami mulai menjalankan pungutan retribusi, dengan hitungan tiket masuk Rp3000 per orang. Begitu juga dengan pengadaan petugas kebersihan yang sebelumnya dikerjakan BUMDes langsung,” tuturnya.

Baca Juga  Pariaman Butuh Peningkatan SDM Kuliner Bagi Wisatawan

Ia menerangkan, pada tahun itu, Desa Wisata Apar berhasil memperoleh pendapatan Rp100 juta dari pungutan tiket masuk. Dana tersebut, sebanyak sepuluh persen disetor kepada pemerintah kota dalam bentuk pajak.  “Selain membayar pajak, uang tersebut juga digunakan untuk perawatan kawasan dan gaji petugas kebersihan serta petugas tiket,” ucapnya.

Fadel dengan bangga mengatakan, sejauh ini kawasan Desa Wisata itu telah disambangi beberapa menteri. Salah satunya adalah Menteri Kelautan dan Perikanan yang berkunjung pada Juni 2021 sekaligus meresmikan wisata tersebut. “Pada bulan yang sama Desa Wisata Apar ikut ADWI. Tujuan awal kami untuk mengenalkan wisata ini secara meluas kepada masyarakat,” katanya.

Baca Juga  Socolatte, Cokelat Berkualitas Asli dari Kakao Aceh Kini Go Nusantara

Desa Wisata Apar berhasil meraih puncak kejayaan pada Ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) itu sebagai peraih Juara 3 Kategori Desa Digital. Sayangnya, kejayaan itu tidak berlangsung lama karena masyarakat dan pemuda setempat kembali melakukan penolakan.